Natal


DALAM SUASANA NATAL KITA DITUNTUT UNTUK MENJADI REKAN SEKERJA ALLAH DALAM
MENYATAKAN KARYA KESELAMATAN KETIKA KRISTUS LAHIR
.
Yes. 63:7-9, Mzm. 148, Ibr. 2:10-18, Mat. 2:13-15, 19-23


Seorang wanita yang baru melahirkan seorang bayi membutuhkan masa pemulihan diri secara fisik dan mental. Sebab secara fisik, wanita yang baru melahirkan masih rentan untuk mengalami pendarahan. Sedang secara mental, ditemukan cukup banyak wanita yang baru melahirkan mengalami masa “baby blue syndrome” yaitu masa di mana sang ibu merasa depresi seperti: perasaan semakin tak menentu, sedih, bingung dan terasa sulit untuk mengurus diri sendiri dan keluarga. Penyebabnya karena telah terjadi perubahan fisikal yang besar setelah seorang wanita mengalami proses melahirkan, hormon-hormon dalam tubuh juga akan mengalami perubahan besar dan juga karena dia baru saja melalui proses persalinan yang melelahkan secara fisik dan mental. Memahami kenyataan alamiah yang dialami oleh setiap wanita yang melahirkan, kita juga perlu lebih memahami situasi dari Maria setelah dia melahirkan bayi Yesus. Jadi sebenarnya Maria juga membutuhkan proses pemulihan secara fisik dan mental setelah dia melahirkan. Namun dalam perikop kita disaksikan setelah melahirkan bayi Yesus, tak lama kemudian Yusuf mendapat petunjuk dari malaikat Tuhan agar dia harus membawa Maria dan bayi Yesus untuk segera pergi mengungsi ke tempat yang sangat jauh, yaitu pergi ke Mesir. Malaikat Tuhan berkata kepada Yusuf: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibuNya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia” (Mat. 2:13). Dengan kondisi yang sangat lemah Maria, bayi Yesus dan Yusuf harus segera melarikan diri malam itu juga untuk mengungsi ke Mesir. Mereka harus melakukan perjalanan jauh yang sangat sulit dan berat karena mereka harus melewati padang gurun yang di waktu malam sangat dingin, dan pada siang hari sangat terik. Mereka melarikan dari bahaya penangkapan dan pembunuhan dari raja Herodes, tapi kini dalam pelarian ke Mesir mereka juga harus menghadapi bahaya kematian yang sangat mengerikan khususnya saat mereka harus melewati padang gurun.

Tindakan raja Herodes Agung yang ingin membunuh bayi Yesus dan juga pembunuhan terhadap bayi-bayi di Betlehem mengingatkan kita kepada tindakan Firaun yang ingin memusnahkan bayi laki-laki Israel. Para bidan Mesir diperintahkan oleh Firaun untuk membunuh semua anak bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan oleh wanita Israel (Kel. 1:16). Sehingga ketika Musa lahir oleh orang-tuanya yaitu Amran dan Yekhobed dari suku Lewi segera disembunyikan agar dapat terhindar dari pembunuhan dari Firaun (Kel. 2:1-2). Dalam kisah di kitab Keluaran dan Injil Matius pada hakikatnya mau menunjukkan bahwa terdapat persamaan antara Herodes Agung dengan Firaun. Mereka berdua merupakan representasi dari kuasa kegelapan yang ingin menghancurkan kehidupan dan karya keselamatan Allah. Itu sebabnya dalam kedua kisah tersebut juga terdapat kesamaan antara Musa dengan Yesus. Musa yang mewakili umat Israel Perjanjian Lama sebagai seorang yang dipilih dan diutus oleh Allah untuk menyelamatkan umatNya dari kuasa perbudakan Firaun. Yesus sebagai wakil umat Perjanjian Baru ditentukan oleh Allah untuk menyelamatkan umat manusia dari perbudakan dan kuasa dosa. Namun keduanya yaitu Musa dan Yesus harus melarikan diri dan menyelamatkan diri agar karya keselamatan Allah dapat terwujud pada waktunya. Dengan demikian Injil Matius telah membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah penggenap dari nubuat nabi Musa yang berkata: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan” (Ul. 18:15). Nabi yang dimaksudkan dalam nubuat nabi Musa sangat jelas, Dialah Yesus yang namaNya berarti: “Allah yang menyelamatkan”. Allah telah meletakkan seluruh firmanNya di dalam diri Yesus sehngga perkataan Tuhan Yesus senantiasa penuh kuasa dan wibawa Allah. Sehingga tepatlah nubuat dari Ul 18:18 yang mana Allah berfirman: “seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya“.


Namun Kristus bukanlah sekedar seorang nabi zaman akhir. Menurut nubuat nabi Yesaya, Allah sendirilah yang akan menjadi Juru-selamat mereka. Di Yes. 63:8b-9, Allah berfirman: “maka Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasihNya dan belas kasihanNya”. Melalui nubuat nabi Yesaya tersebut, Allah menyatakan bahwa Ia akan menjadi seorang Juru-selamat, sehingga melalui diriNya Allah akan menebus umatNya. Ini berarti melalui Kristus, Allah berkenan menyatakan diriNya. Allah berinkarnasi menjadi Juruselamat melalui diri Yesus Kristus; sehingga melalui Yesus Kristus, Allah menempatkan diriNya dalam kehidupan dan sejarah umatNya.  Tujuannya agar melalui Yesus Kristus, Allah dapat menyatakan kasih dan belas-kasihanNya kepada seluruh umat manusia. Jadi peristiwa kelahiran Kristus di sebuah palungan kota Betlehem dan pelarianNya ke Mesir pada hakikatnya mau menyatakan bahwa Allah yang maha-kuasa berkenan mengalami penderitaan dan kesengsaraan akibat penolakan umat manusia ataupun upaya jahat dari kuasa kegelapan. Dalam manifestasi kasih dan rencana keselamatanNya, Allah di dalam Kristus juga berada dalam ancaman dan penderitaan yang demikian kelam. Karena itu segala penolakan dan penderitaan yang terjadi diterima secara tulus oleh bayi Yesus bersama Maria dan Yusuf. Kita tidak dapat membayangkan keadaan bayi Yesus, Maria dan Yusuf yang waktu itu harus melakukan pengungsian ke Mesir dengan melewati perjalanan yang sangat berat dan berbahaya seperti padang gurun. Pastilah mereka waktu mengungsi ke Mesir harus mengalami peristiwa rasa haus yang luar biasa di padang gurun, persediaan makanan yang sangat terbatas atau hampir habis, rasa penat yang luar-biasa dan tantangan alam padang gurun yang sangat berat. Namun yang sangat mengagumkan adalah bagaimana mereka pada akhirnya dapat tiba dengan selamat di Mesir dan tinggal beberapa waktu lamanya sampai raja Herodes meninggal. Kenyataan itu membuktikan bagaimana sikap ketaatan dan kesetiaan  Yusuf, Maria dan bayi Yesus untuk memenuhi kehendak dan rencana Allah.

Di dalam Kristus, Allah telah menyatakan kasihNya kepada manusia dengan kesediaanNya untuk mengalami penderitaan yang begitu berat. Bayi Yesus sejak awal telah bersentuhan dengan realita penderitaan, kemiskinan dan kekejaman dunia. Allah di dalam Kristus sungguh-sungguh terlibat dalam proses sejarah hidup manusia, sehingga kesusahan dan penderitaan hidup manusia menjadi bagian yang integral dan eksistensial dari diri Allah. Paradigma teologis ini sungguh-sungguh tidak sesuai dengan pola pikir filsafat Timur maupun Barat yang beranggapan bahwa Allah yang ilahi tidak dapat mengalami derita dan kesusahan manusia. Sebab Allah yang ilahi bersifat transenden dan Dia adalah “penggerak yang tidak tergerakkan” (“mover that unmoved”). Itu sebabnya Allah tidak mungkin merasakan secara afektif penderitaan dan kesusahan yang dialami oleh manusia. Apabila manusia dapat mengalami penderitaan dan kesusahan adalah disebabkan manusia masih lekat dengan dunia materi. Manakala manusia ingin lepas dari kesusahan hidup, maka manusia harus membebaskan diri dari dunia materi. Tetapi benarkah pola pikir semacam itu dapat menyelesaikan permasalahan? Benarkah agar kita dapat lepas dari kesusahan hidup, maka kita harus menyingkir dan melarikan diri dari realita dunia? Justru sebaliknya, Allah menyelamatkan manusia dengan cara bersedia untuk menderita. Ibr. 2:10 berkata: “Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah – yang bagiNya dan olehNya segala sesuatu dijadikan; yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan”. Melalui penderitaan yang dialami oleh Kristus, sesungguhnya Allah telah menguduskan realita penderitaan sehingga melalui penderitaan yang dialami manusia justru manusia dapat memperoleh kemuliaan dan keselamatan. Realita penderitaan dalam pemahaman iman Kristen bukan untuk ditolak, tetapi justru harus dihadapi dan diselesaikan secara tuntas. Bahkan lebih dari pada  itu realita penderitaan yang dialami oleh manusia perlu dikuduskan melalui pengorbanan Kristus, sehingga realita penderitaan tidak pernah boleh memisahkan relasi manusia dengan Allah. Realita penderitaan senantiasa menyakitkan, melukai dan dapat melumpuhkan; tetapi penderitaan yang telah dikuduskan oleh Kristus akan memampukan manusia untuk merangkul kesusahan dan derita yang dialaminya.   Justru pada saat itulah manusia dirangkul oleh Allah.

Selain itu realita penderitaan yang dikuduskan oleh derita dan kematian Kristus mempunyai makna imaniah, yaitu Allah sedang menghancurkan “kekuatan utama” di balik realita penderitaan. Ibr. 2:14 berkata: “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut”.  Melalui derita dan kematian Kristus, Allah berkenan untuk “menukik tajam” dan ke dalam realita kehidupan agar Dia dapat menghancurkan seluruh realita penderitaan yang membelenggu umat manusia. Karena itu tokoh-tokoh seperti Firaun dan raja Herodes Agung merupakan contoh-contoh manifestasi dan kehadiran dari kuasa kegelapan yang membahayakan kehidupan dan keselamatan umat manusia. Dalam pelarian bayi Yesus bersama dengan Maria dan Yusuf ke Mesir untuk sementara waktu raja Herodes dapat menunjukkan kuasanya yang destruktif. Tapi kemudian di Mat. 2:19-20 terdapat catatan singkat setelah Yusuf, Maria dan bayi Yesus sempat tinggal di Mesir beberapa waktu, yaitu: “Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibuNya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati”. Walau raja Herodes Agung memiliki daya kuasa yang luar biasa dan mampu mencabut banyak nyawa termasuk bayi-bayi di Betlehem, namun pada akhirnya dia mati. Realita ini mau menyaksikan situasi keterbatasan dan kefanaan manusia termasuk mereka yang sangat berkuasa. Sebab pada akhirnya mereka mati. Tetapi satu hal yang sangat mendasar, kuasa kegelapan yang berada di balik tokoh-tokoh berkuasa yang fana itu ternyata tidak serta merta binasa. Sebab setelah raja Herodes Agung wafat, dia kemudian digantikan oleh Arkhelaus. Dalam penyataan Allah melalui mimpi Yusuf dinasihati untuk membawa Yesus dan Maria menyingkir ke daerah Galilea dan mereka kemudian tinggal di Nazaret. Para tokoh yang menjadi agen kuasa kegelapan akan mengalami kematian, tetapi karya penyelamatan Yesus Kristus dari Nazaret tetap kekal.

Para tokoh dan penguasa seperti Firaun dan Herodes Agung atau juga Arkhelaus memposisikan dirinya sebagai agen kuasa kegelapan dengan menyebarkan kematian kepada banyak orang. Tetapi tidak demikian tokoh seperti Yusuf dan Maria. Mereka berdua sebenarnya tidak memiliki kekuatan apapun. Lebih tepat mereka tergolong orang-orang yang tidak berdaya. Selainitu Yusuf dan Maria adalah orang-orang yang sangat sederhana, tetapi mereka berdua dipakai oleh Allah untuk menyelamatkan bayi Yesus dari kejaran para musuhNya. Di Nazaret, Yusuf dan Maria mendidik, mengasuh dan membesarkan Yesus dengan penuh kasih sayang, agar pada saat yang tepat Yesus dapat siap tampil untuk memenuhi rencana dan kehendak Allah menjadi Juru-selamat dunia. Jadi dalam Injil Matius terdapat gambaran yang sangat kontras antara Firaun atau Herodes Agung dan Arkhelaus dengan tokoh Yusuf dan Maria. Dalam hal ini menjadi sangat jelas, bahwa Yusuf dan Maria telah menjadi kawan sekerja Allah dalam karya penyelamatanNya. Sebaliknya tokoh Herodes Agung dan Arkhelaus lebih memposisikan diri sebagai para musuh Allah yang selalu berencana untuk menghancurkan karya keselamatan Allah. Jika demikian, di manakah kita selaku gereja Tuhan memposisikan diri? Apakah kita telah menjadi kawan sekerja Allah dalam karya penyelamatanNya? Ataukah kita justru menjadi para musuh Allah yang selalu menghambat,  merusak dan menghancurkan karya penyelamatanNya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut umumnya dapat kita jawab dengan mudah. Sebab kita pasti akan mengatakan bahwa kita akan memilih menjadi kawan sekerja Allah dalam karya penyelamatanNya. Dalam hal ini umumnya kita telah sangat “familiar” untuk menyatakan secara rohaniah dan ungkapan yang saleh seperti: “bersedia menjadi kawan sekerja Allah dalam karya penyelamatanNya”. Tetapi apakah kehidupan kita secara riel juga bersedia menempuh penderitaan dan kesusahan sebagaimana yang dialami oleh Yusuf dan Maria? Apakah kita memiliki ketaatan dan kesetiaan kepada Allah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yusuf dan Maria? Bahkan lebih dari pada itu Allah di dalam Kristus juga berkenan memilih untuk mengalami kesusahan dan penderitaan untuk merangkul dan menyelamatkan umat manusia. Terbukti Kristus tetap taat dalam penderitaanNya. Sehingga Kristus juga dapat merasakan dan mengalami realita penderitaan umat manusia. Ibr. 2:17 berkata: “Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”.

Jika demikian, apakah keluarga kita telah menjadi kawan sekerja Allah dalam karya keselamatanNya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Maria, Yusuf dan Yesus? Mereka taat dalam melaksanakan kehendak Allah. Bahkan melalui kehidupan dan penderitaan Kristus, kita dapat melihat bagaimana seluruh kasih dan bela-rasa Allah terhadap penderitaan umatNya. Di dalam Kristus, Allah bersedia mengalami penderitaan manusia agar Dia dapat menolong setiap orang yang menderita dan mengalami pencobaan. Ibr. 2:18 berkata: ‘Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai”. Sikap bela-rasa kasih Allah tersebut perlu kita komunikasikan kepada orang-orang di sekitar kita. Walau untuk tujuan itu harus disadari bahwa tidak semua perbuatan baik dan mulia senantiasa diterima dengan ramah. Selalu terbuka kemungkinan sikap penolakan. Tetapi sikap penolakan dan rasa curiga serta rasa benci dari orang-orang di sekitar kita tidak boleh membuat kita kehilangan konsistensi dalam kasih dan ketaatan kepada kehendak Allah. Sikap kasih dan bela-rasa Allah di dalam Kristus diumpamakan seperti air sungai yang mengalir deras. Walau di sungai tersebut terdapat begitu banyak batu yang besar dan terjal, tetapi air sungai tetap mengalir untuk memberi kehidupan, kesuburan dan manfaat bagi seluruh makhluk. Jika demikian, apakah kita bersedia menjadi air sungai kehidupan sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita kehidupan dan keselamatan yang kekal? Sehingga kehidupan kita selaku umat percaya senantiasa memberikan kesegaran, kesuburan, daya hidup dan keselamatan bagi orang-orang di sekitar kita. Amin.

Dikutip dari bapak pdt.Bambang Handojo

Editor and Re_shared By : https://marudutsihombing.wordpress.com

“Kristus” artinya “yang diurapi


Di kalangan kita sebagai orang Indonesia, nama “Yesus” adalah nama yang amat sangat jarang ada, tapi bagi kalangan orang Yahudi, nama “Yesus” adalah nama yang sangat umum dipakai. Itu sebabnya, agar para pembaca Injil tidak salah mengerti Yesus yang mana, penting bagi Matius untuk mempertegas siapa Yesus yang dimaksud dari awalnya. Sehingga di Mat 1:1, Matius sudah mulai menekankan tidak hanya nama “Yesus”, tetapi “Yesus Kristus”. “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud….” . Jadi, bukan sembarangan Yesus, tapi “Yesus yang diurapi” (“Kristus” artinya “yang diurapi”).

Perlu dicatat, pengurapan biasa dilakukan dengan media cairan minyak dan dilakukan dalam upacara pentahbisan jabatan khusus seseorang, spt imam/raja. Dengan kata lain, nama “Yesus Kristus”, bukan hanya mengandung nama manusia saja (human name), tapi sekaligus menunjukkan jabatan khusus (office title), sebagai seorang raja.  Apa buktinya Yesus adalah seorang Raja?

Matius membuktikannya dengan luar biasa. Sebagaimana bagi orang Yahudi daftar garis keturunan seseorang (genealogies) adalah hal yang penting, maka Matius membeberkan fakta bahwa secara garis keturunan manusia (human heredity), Yesus Kristus adalah keturunan sah dari Raja Daud. Yesus adalah Raja. (Mat 1:17). .

Tidak hanya secara garis keturunan manusia (human heredity, Mat 1:1-14), tapi juga secara garis keturunan ilahi (divine heredity, Mat 1:15-25), Matius membuktikan bahwa Yesus Kristus, bukan raja biasa, tapi Ia adalah Raja diatas segala raja, sebab Ia adalah Allah. Perhatikan nama yang diberikan pada Yesus, “…dan mereka akan menamakan Dia, Imanuel – Allah menyertai kita” (Mat 1:23).

Memang karena dosa kita terpisah dari Allah, tetapi Sang Imanuel, tidak pernah meninggalkan kita begitu saja dalam kubangan dosa. Natal menjadi wujud nyata bagaimana Allah sendiri mau berdamai dengan kita dan Yesus Kristus menjadi Juru Damai kita. Misi perdamaian ini adalah omong kosong bisa terjadi, apabila dimulai dari pihak manusia yang berdosa. Itulah sebabnya inisiatif perdamaian datang dari atas, dari pihak Allah sendiri, Allah yang mengasihi kita, Allah yang tidak pernah meninggalkan kita, Allah yang senantiasa menyertai kita, Sang “Imanuel”.

amin-amin,.sang Raja telah lahir,sang pembawa damai,sang pembawa damai,baik di keluarga,kota,bangsa maupun di pribadi kita,.karena Bapa sudah menyelesaikan pendamaian itu,.bawalah natal yang damai,..maju terus,.saya menghimbau kepda rekan2 semua wujud damai sejahtera di manapun kamu berada,termasuk kotamu,.alkitab mencatat “usahakanlah kesejateraan kotamu di mana engkau AKU buang”jadi tanggung jawab kitalah itu,.hheheheeee,.semangat terus anak muda,.

Marudutsihombing MEngucapkan selamat hari natal dan tahun baru ya,.damai yang baru pula ada pada kita setiap saat,..sukses,..

Bintang Kompas Bintang dari Timur

Dalam Rangka menyambut Natal ini, marilah kita bersama belajar tentang Bintang Kompas, apakah artinya Bintang kompas, nampaknya sangat asing di Telinga kita? Ya memang itu bukan suatu nama yang sudah ada tetapi suatu istilah yang akan kita coba pikirkan!

Bintang kompas itu sebenarnya adalah terdiri dari dua suku kata, dan juga dua macam nama dari benda, yaitu Bintang dan Kompas, yang kemudian digabungkan menjadi Bintang Kompas.

Apakah arti dari Bintang? Bintang adalah benda-benda yang ada di angkasa, dan juga benda-benda yang terang dilangit, yang jumlah dan keberadaannya adalah ditentukan dan diciptakan oleh Allah.Apa arti dari Kompas?

Kompas adalah alat yang dipakai untuk menentukan arah mata angin yang membantu kita untuk mengetahui arah dan tujuan yang akan kita tuju.

Sebab itu  membicarakan Bintang Kompas, artinya adalah Bintang itu sebagai Kompas untuk membawa kita pada suatu tujuan/ gol atau sasaran.

Membicarakan tentang Bintang Kompas, kita mungkin mengetahui bahwa ada istilah yang disebut dengan Astronomi dan juga Astrology. Apakah yang disebut dengan Astronomi ?  Dalam bahasa  Gerika astronomia = astron + nomos, secara literal artinya “law of the stars”). Astronomi adalah ilmu yang tertua di masa permulaan kebudayaan melaksanakan metodelogi penelitian  untuk objek benda-benda dilangit, seperti Bintang-bintang, Planet, komet-komet dan Galaxi-galaxi.  Dan sekarang dalam perkembangannya menggunakan teleskop  sebagai ilmu yang lebih modern. Astronomi pada masa itu adalah suatu ilmu untuk mengetahui letak rasi Bintang untuk dapat menentukan arah dalam perjalanan dilautan atau dipadang Gurun yang luasa yang juga rupanya dipelajari oleh orang-orang Majus.

Apakah yang disebut dengan Astrology? Astrology adalah sebuah group dari sistim, tradisi dan kepercayaan yang di ketahui dalam posisi yang bergantung pada  perbintangan dan secara menyeluruh berkaitan detail yang dipeliharakan dan digunakan untuk mengerti, menafsirkan dan mengorganisasikan informasi tentang kepribadian, peristiwa hidup manusia di dunia ini.Secara sederhana yaitu suatu ilmu nujum perbintangan dan keyakinan bahwa nasib hidup seseorang itu sangat bergantung pada bulan apakah ia dilahirkan? maka melalui Bintang saat kelahirannya itu akan dapat dibaca, apa yang bisa jadi keberuntungan hidup ataupun segala kesialan hidup dari seseorang, dan bagaimana cara menghindari nasib jeleknya dll, kita tentunya tidak perlu mempercayai hal ini, karena hidup kita sudah direncanakan dan diatur oleh Tuhan sendiri sesuai dengan maksud Allah bukan ditentukan oleh Bintang-bintang tsb. Hidup kita benar-benar ditangan Allah.

Untuk direnungkan, Bintang Kompas  adalah Bintang yang dilihat dan diikuti oleh orang Majus sebagai Bintang dari Timur, sebagai fenomena yang luar biasa ajaibnya yang pernah terjadi dilangit yang mempermaklumkan kelahiran Sang Mesias ini menjadi alat yang membawa orang Majus ini  datang dan menyembah Tuhan  dan memberikan pemberian yang terbaik kepada Tuhan, Bintang ini telah menjadi kompas sehingga orang Majus dapat bertemu dengan Tuhan, Yesus! Sebab itu dalam rangka menyambut Hari Natal ini, kitapun sebagai orang yang percaya boleh menjadi Bintang Kompas masa kini untuk membawa orang-orang yang belum percaya juga boleh datang dan menyembah dan memberikan yang terbaik dalam hidupnya bagi segala kemuliaan Tuhan Yesus Kristus. Amin.

Met Natal,..

Sumber : Renungan harian

Editor : Marudut Sihombing

Reshared : https://marudutsihombing.wordpress.com

Menyambut Renungan Natal


Ada dua jenis kesederhanaan. Pertama, kesederhanaan karena tidak dapat tidak; pengennya sih mewah dan meriah, cuma apa daya tangan tak sampai alias tidak bisa, jadi ya sudah, sederhana saja. Kedua, kesederhanaan karena memang pilihan; kalau mau sih bisa saja mewah dan meriah, daya untuk itu ada kok, cuma karena ada pertimbangan tertentu, bikin yang sederhana sajalah.

Sebuah peristiwa bermakna atau tidak, tidak tergantung pada kemewahan atau kemeriahan dan kesederhanaan berlangsungnya. Tetapi tergantung pada dampak yang ditimbulkannya. Sebuah peristiwa yang mewah dan meriah tetapi tidak menimbulkan dampak apa-apa, ya akan berlalu begitu saja dan dilupakan

Natal yang pertama kali, 2000-an tahun lalu, adalah peristiwa yang sederhana banget. Bayangkan saja: kota kecil Betlehem, Yusuf dan Maria yang miskin, kandang dan palungan tempat makanan ternak, juga para gembala di padang Efrata. Semuanya begitu sederhana sekali. Tetapi dampaknya sampai masa sekarang begitu luar biasa. “Kesukaan besar bagi seluruh bangsa.”

Kesukaan besar itu sebagaimana yang ditampakan oleh kata-kata Tuhan Yesus ini, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebasakan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19).

Kepada orang-orang miskin yang dari zaman ke zaman selalu menjadi pihak yang tersingkir, Tuhan Yesus menawarkan penerimaan. Tawanan bukan dalam arti konkret saja, tapi juga bisa berarti tawanan karena dosa (akar pahit, dendam kesumat) Tuhan Yesus menawarkan pembebasan dan pengampunan. Kepada orang buta, Dia memberikan penglihatan. Orang buta juga bisa dimaknai buta secara rohani; orang-orang yang bisa membedakan kebenaran, Tuhan menawarkan penglihatan untuk melihat kebenaran. Intinya, Kristus membawa kabar baik, yaitu bahwa Tahun rahmat Tuhan telah datang melalui kelahairan-Nya.

Jadi salahlah kalau ada orang yang bilang dengan atau tanpa Natal, dunia ini sama saja. Tidak. Dunia kita akan menjadi dunia tanpa pengharapan tanpa kelahiran Kristus. Bahwa kemudian Natal seoalah menjadi peistiwa rutin, tanpa makna, bukan karena Natalnya, tapi sikap kita dalam menyambut Natal.

Kita terjebak dengan pemaknaan Natal secara fisik. Seolah Natal sudah identik dengan pesta, kado, kemeriahan. Natal sudah menjadi komiditi. Menjadi sebuah musim dan bukan moment. Musim seperti di tampilkan di Orchad Road. Natal menjelang, begitu gebyar. Lampu-lampu dan hiasan. Lagu-lagu Natal bergema. Tapi setelah bulan Desember berlalu, berlalu pulalah aksesosri Natal Tanpa bekas. Natal pun menjadi sebuah perayaan rutin tanpa makna, sejauah hura-hura.

Natal akan menjadi Natal yang bemakna kalau kita menjadikan sebagai sebuah momen; momen perubahan, momen untuk berdamai, momen untuk sharing, momen untuk kembali kepada komitmen awal pelayanan, momen untuk menyatakan  bahwa Kristus adalah harapan dunia. Dan itu bisa kita nyatakan dalam kesederhanaan, kebersahajaan,dan penuh dengan Cinta Kasih.

Luar biasa sekali apabila natal di mulai dari kita dan hari ini dimulai juga,supaya tercipta kedamaian,seperti yang tuhan Yesus inginkan,bayangkan saja kalau setiap hari penuh damai,wowww,..sungguh tak terbayangkan,..luar biasa Engkau Bapa,..penuh kesahajaan,..Mari kita Tebarkan Natal dengan penuh damai dan cinta kasih,.

Salam Damai,..

Marudut sihombing

10 responses to this post.

  1. Posted by Agustinus Pudiarto on November 2, 2011 at 8:43 pm

    Mohon ijin untuk menggunakan beberapa gambar untuk buku ibadat natal…tks…. blognya bagus…….bisa diajarin donk cara buat themes atau templatenya.

    Balas

  2. Posted by yandri langi on November 2, 2011 at 9:40 pm

    i love my lord

    Balas

  3. Posted by Hanna on November 20, 2011 at 3:21 pm

    I love Jesus..

    And I like Christmas..

    Balas

  4. Posted by nova simangunsing on November 24, 2011 at 10:44 pm

    ???

    Balas

  5. Posted by elyza sitohang on November 27, 2011 at 3:37 pm

    bagus bangat……

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: