Health


makanan sehat

Kebutuhan Kalsium, Serat dan Zat Besi Harus Terpenuhi

Dari hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan kalsium, serat, dan zat besi pada wanita sering kali tidak terpenuhi. Akibatnya akan menimbulkan defisiensi yang nantinya akan mengarah pada penyakit jantung, kanker, dan kerapuhan tulang.

Untuk memenuhi kekurangan zat-zat tersebut di atas, sebaiknya makanan yang perlu anda konsumsi antara lain:

  1. yoghurt non lemak atau susu skim – minimal anda akanmendapatkan sepertiga kandungan kalsium per hari dalam satu cangkir. Kalsium akan membangun dan mempertahankan kesehatan tulang.
  2. buah jeruk – membantu memerangi penyakit akibat kekurangan vitamin C, karena buah jeruk mengandung asam folat, yaitu vitamin yang dapat mencegah bayi lahir cacat dan penyakit jantung.
  3. ikan salmon – merupakan sumber utama protein dan asam lemak omega 3 yang menurunkan resiko terkena serangan jantung.
  4. beras merah – sumber serat, vitamin E, asam folat, dan zat besi
  5. kacang-kacangan – sumber serat dan protein rendah lemak. Kacang kedelai juga bisa menurunkan resiko kanker payudara dan penyakit jantung.
  6. sayuran berwarna hijau tua, merah, kuning, dan oranye, seperti bayam, wortel, ketela, dan paprika menghindarkan anda dari kanker dan penyakit jantung.
  7. oatmeal – merupakan sumber zat besi dan serat

Sumber : http://gayahidupsehat.org

Re_shared : https://marudutsihombing.wordpress.com

 

 

 

 

 

Penyakit Kawasaki Yang Mematikan

KOMPAS.com – Hari masih pagi saat sebuah mobil mewah meluncur dengan kencangnya di jalan bebas hambatan di Eropa. Tiba-tiba mobil menghantam tepi jalan dan terbalik. Saksi mata yang melihat menduga si pengemudi mabuk. Polisi datang dan menemukan si pengemudi seorang gadis berusia 19 tahun, meninggal. Hasil otopsi menunjukkan bahwa ia tiba-tiba kena serangan jantung koroner sehingga tidak dapat lagi mengontrol mobilnya. Ternyata data rekam medisnya menunjukkan bahwa ia pernah terkena penyakit Kawasaki saat berusia 2 tahun tanpa disadari, baik oleh dokter maupun keluarganya.

Tragedi serupa dialami Joni, bayi lucu yang berusia 8 bulan. Sudah lebih 10 hari ia demam dan ibunya sudah berganti dokter. Akhirnya, barulah diketahui bahwa ia menderita penyakit Kawasaki. Sayang sudah terlambat. Katup jantungnya mengalami kerusakan parah dan nyawanya tak tertolong lagi.

Apakah penyakit Kawasaki (PK) itu ?
PK ditemukan oleh Dr Tomisaku Kawasaki di Jepang tahun 1967 dan saat itu dikenal sebagai mucocutaneous lymphnode syndrome. Untuk menghormati penemunya, penyakit itu akhirnya dinamakan Kawasaki. Di Indonesia, banyak di antara kita yang belum memahami penyakit berbahaya ini, bahkan di kalangan medis sekalipun. Hal inilah yang menyebabkan diagnosis acap terlambat dengan segala konsekuensinya. Penampakan penyakit ini juga dapat mengelabui mata sehingga dapat terdiagnosis sebagai campak, alergi obat, infeksi virus, atau bahkan penyakit gondong. Penyakit yang lebih sering menyerang ras Mongol ini terutama menyerang balita dan paling sering terjadi pada usia 1-2 tahun. Bahkan, penulis pernah menemukan PK pada seorang bayi berusia 3 bulan yang menderita demam selama 18 hari.                                                                                                                                                                                     

Angka kejadian per tahun di Jepang tertinggi di dunia, yaitu berkisar 1 kasus per seribu anak balita. Peringkat itu disusul oleh Korea dan Taiwan. Adapun di Amerika Serikat berkisar 0,09 (pada ras kulit putih) sampai 0,32 (pada keturunan Asia-Pasifik) per seribu balita. Di Indonesia, penulis menemukan bahwa kasus PK sudah ada sejak tahun 1996. Namun, ada dokter yang menyatakan sudah menemukan sebelumnya. Meskipun demikian, Indonesia baru resmi tercatat dalam peta penyakit Kawasaki dunia setelah laporan seri kasus PK dari Advani dkk diajukan pada simposium internasional penyakit Kawasaki ke-8 di San Diego, AS, pada awal 2005.                                

Diduga, kasus di Indonesia tidaklah sedikit, dan menurut perhitungan kasar, berdasarkan angka kejadian global dan etnis di negara kita, tiap tahun akan ada 3.300-6.600 kasus PK. Namun kenyataannya, kasus yang terdeteksi masih sangat jauh di bawah angka ini. Antara 20 dan 40 persennya mengalami kerusakan pada pembuluh koroner jantung. Sebagian akan sembuh. Namun, sebagian lain terpaksa menjalani hidup dengan jantung yang cacat akibat aliran darah koroner yang terganggu. Sebagian kecil akan meninggal akibat kerusakan jantung.

Penyebab PK hingga saat ini belum diketahui, meski diduga kuat akibat suatu infeksi. Namun, belum ada bukti yang meyakinkan mengenai hal tersebut. Karena itu, cara pencegahannya juga belum diketahui. Penyakit ini juga tidak terbukti menular.

Gejala awal pada fase akut adalah demam yang mendadak tinggi dan bisa mencapai 41 derajat celsius. Demam berfluktuasi selama setidaknya 5 hari, tetapi tidak pernah mencapai normal. Pada anak yang tidak diobati, demam dapat berlangsung selama 1-4 minggu tanpa jeda. Pemberian antibiotik tidak menolong. Sekitar 2-3 hari setelah demam, mulai muncul gejala lain secara bertahap, yaitu bercak-bercak merah di badan yang mirip seperti penyakit campak. Namun, gejala batuk pilek yang dominan pada campak biasanya ringan atau bahkan tidak ada pada PK.

Gejala lain yang timbul adalah kedua mata merah, tetapi tanpa kotoran (belekan), pembengkakan kelenjar getah bening di salah satu sisi leher sehingga kadang diduga penyakit gondong (parotitis), lidah merah menyerupai stroberi, bibir juga merah dan kadang pecah-pecah, serta telapak tangan dan kaki merah dan agak membengkak. Kadang anak mengeluh nyeri pada persendian. Pada fase penyembuhan, terjadi pengelupasan kulit di ujung jari tangan serta kaki kemudian timbul cekungan berbentuk garis melintang pada kuku kaki dan tangan (garis Beau).

Penderita PK harus dirawat inap di rumah sakit dan mendapat pengawasan dari dokter ahli jantung anak. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah pada jantung (terjadi pada 20-40 persen penderita) karena dapat merusak pembuluh nadi koroner. Komplikasi ke jantung biasanya mulai terjadi setelah hari ke-7 dan ke-8 sejak awal timbulnya demam. Pada awalnya, pembuluh ini dapat terjadi pelebaran kemudian bisa terjadi penyempitan bagian dalam atau sumbatan. Akibatnya, aliran darah ke otot jantung terganggu sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada otot jantung yang dikenal sebagai infark miokard.

Pemeriksaan jantung menjadi hal yang sangat penting, termasuk EKG dan ekokardiografi (USG jantung). Kadang ultrafast CT scan, Magnetic Resonance Angiography (MRA) atau kateterisasi jantung diperlukan pada kasus yang berat. Pemeriksaan laboratorium untuk penyakit ini tidak ada yang khas. Biasanya, jumlah sel darah putih, laju endap darah, dan C Reactive protein meningkat pada fase akut. Jadi, diagnosis ditegakkan atas dasar gejala dan tanda klinis semata sehingga pengalaman dokter sangat dibutuhkan. Pada fase penyembuhan, trombosit darah meningkat dan ini akan memudahkan terjadinya trombus atau bekuan darah yang menyumbat pembuluh koroner jantung.


Obat yang mutlak harus diberikan adalah imunoglobulin secara infus selama 10-12 jam. Obat yang didapat dari plasma donor darah ini ampuh, baik untuk meredakan gejala PK maupun menekan risiko kerusakan jantung. Namun harga yang mahal menjadi kendala. Harga satu gram berkisar Rp 1 juta. Penderita PK membutuhkan imunoglobulin 2 gram per kg berat badannya. Sebagai contoh, anak yang berat badannya 15 kg membutuhkan 30 gram, dengan harga sekitar Rp 30 juta. Penderita juga diberikan asam salisilat untuk mencegah kerusakan jantung dan sumbatan pembuluh koroner. Jika tidak ada komplikasi, maka anak dapat dipulangkan dalam beberapa hari.

Pada kasus yang terlambat dan sudah terjadi kerusakan pembuluh koroner, perlu rawat inap yang lebih lama dan pengobatan yang intensif guna mencegah kerusakan jantung lebih lanjut. Jika dengan obat-obatan tidak berhasil, maka kadang diperlukan operasi pintas koroner (coronary bypass) atau bahkan, meskipun sangat jarang, transplantasi jantung. Kematian dapat terjadi pada 1-5 persen penderita yang umumnya terlambat ditangani dan puncaknya terjadi pada 15-45 hari setelah awal timbulnya demam. Meskipun demikian, kematian mendadak dapat terjadi bertahun-tahun setelah fase akut. PK juga dapat merusak katup jantung (terutama katup mitral) yang dapat menimbulkan kematian mendadak beberapa tahun kemudian. Kemungkinan kambuhnya penyakit ini adalah sekitar 3 persen.

Pada penderita yang secara klinis telah sembuh total sekalipun dikatakan bahwa pembuluh koronernya akan mengalami kelainan pada lapisan dalam. Hal ini memudahkan terjadinya penyakit jantung koroner, kelak pada usia dewasa muda. Jika ditemukan serangan jantung koroner akut pada dewasa muda, maka mungkin perlu dipikirkan bahwa penderita kemungkinan pernah terkena PK saat masih kanak-kanak. Kiranya kita semua perlu mewaspadai penyakit agar tidak menimbulkan korban lebih lanjut.

Dr. Najib Advani, SpA (K), MMed (Paed), Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dokter Spesialis Anak Konsultan Jantung, Ketua Unit Koordinasi Kerja Jantung Anak pada Ikatan Dokter Anak Indonesia dan peneliti penyakit Kawasaki.

5.000 Balita Menderita Penyakit Kawasaki

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/94836/5_000_Balita_Menderita_Penyakit_Kawasaki

By Republika Newsroom
Rabu, 09 Desember 2009 pukul 22:05:00

TANGERANG–Sebanyak 5.000 kasus penderita penyakit Kawasaki ditemukan selama tahun 2009 di Indonesia, kata Konsultan Specialis Anak Rumah Sakit Omni International, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, dr Najib Advani, Rabu.

Najib mengatakan, Kawasaki merupakan penyakit misteri karena sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti awal mula penyakit itu muncul di tubuh penderita.

Di Indonesia, lanjut Najib, penyakit Kawasaki tergolong penyakit baru, meski telah empat tahun penyakit tersebut berkembang di negara tersebut. “Sekitar 80 persen balita merupakan penderita penyakit Kawasaki. Penyakit ini menyerang jantung si anak bila tidak segera diobati,” ujar Najib.

Komplikasi penyakit Kawasaki, menurut Najib, menimbulkan serangan jantung (infrak miokard) akibat gumpalan darah yang menyumbat di daerah pelebaran. Najib mengaku, gejala penyakit kawasaki mirip penyakit campak, mata, dan bibir merah, timbul kelenjar di leher seperti gondok, terkadang si anak tidak bisa diam ketika digendong.

“Dalam kurun waktu selama 2009 ditemukan 5.000 kasus penyakit kawasaki di Indonesia,”jelasnya. Diakuinya, balita penderita penyakit kawasaki yang di rawat dan di obati rumah sakit swasta itu mencapai sekitar 70 balita dalam setahun.

“Penderita kawasaki yang kita rawat berasal dari Sumatera, Kalimantan, Jakarta, Surabaya adapun dari Tangerang,”ungkap dokter specialis penyakit kawasaki itu. Penyakit asal Jepang yang ditemukan dr Kawasaki pada tahun 1967 kini mulai mengancam balita di Indonesia.

Kata dia, orang tua dari anak penderita kawasaki harus menguras kantong lebih dalam, Gammmaglobulin obat kekebalan bagi penderita penyakit kawasaki harganya mencapai RP1,2 juta per gram. “Bila 2×20 gram obat itu dibeli bisa mencapai RP40 juta. Anak dari kalangan menengah atas yang biasanya menderita penyakit kawasaki,”jelasnya. ant/pur

RS Omni Dirikan Kawasaki Center

Sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2008/07/26/1850541/rs.omni.dirikan.kawasaki.center

SABTU, 26 JULI 2008 | 18:50 WIB
JAKARTA, SABTU – Banyak kalangan yang belum memahami penyakit Kawasaki, bahkan di kalangan medis sekalipun. Karena itu Rumah Sakit Omni International Alam Sutera, Tangerang Sabtui (26/7) meresmikan Kawasaki Center dan Perkumulan Orang Tua Penderita Kawasaki Indonesia (POPKI).

“Tujuan peresmian Kawasaki Center adalah sebagai pusat pengobatan penyakit Kawasaki (PK),” jelas dr. Najib Advani, Chairman Kawasaki Center RS Omni International Hospital Alam Sutera, di RS Omni International Hospital Alam Sutera, Tangerang.

Kawasaki Center yang merupakan pertama dan satu-satunya di Indonesia ini berada di lantai 3 RS Omni International Hospital Alam Sutera, Tangerang. Ketua POPKI Soeyanny A. Tjahja yang juga penderita penyakit Kawasaki berharap bahwa perkumpulan ini dapat menjadi wadah bagi orang tua penderita PK untuk berbagi pengalaman dan informasi mengenai PK. “Perkumpulan ini dapat memudahkan orang tua penderita kawasaki untuk memperoleh informasi serta solusi dari semua keluhan yang ada,” ungkap Soeyanny.

Adanya Kawasaki Center diharapkan dapat menjadi membantu masyarakat menangangi secara dini penyakit Kawasaki sehingga tidak sampai terlambat dan menjadi parah. “Masyarakat diharapkan bisa lebih waspada,” jelas dr. Najib.

Dan penderita PK menurut Soeyanny harus terus berjuang melawan penyakit yang hingga kini belum diketahui penyebabnya tersebut.

Penyakit Kawasaki (PK) merupakan penyakit yang umumnya terdapat pada anak balita dan penyakit ini tidak ada hubungannya dengan nama motor Kawasaki.

Gambar dari aafp.orgGambar dari aafp.org 

PK pertama kali ditemukan oleh Dr. Tomisaku Kawasaki seorang spesialis anak di Jepang pada tahun 1967. PK disebut juga sebagai Kawasaki Syndrome  atau Mucocutaneous Lymphnode Syndrome (MLNS). PK pada saat ini telah menjadi penyebab utama dari pada penyakit jantung yang didapat (acquired Heart Desease) di Negara maju seperti Amerika Serikat.

Siapa yang dapat terkena penyakit Kawasaki ini?

Sekitar 80% penderita PK berusia dibawah 5 tahun, pada umumnya anak usia 8 tahun ke atas serta bayi dibawah usia 3 bulan jarang terkena penyakit ini. Penyakit ini lebih sering mengenai anak laki-laki (>60%) yang memiliki keturunan ras Asia, namun PK dapat saja terjadi pada semua golongan etnik lainnya. Lebih dari 4000 kasus PK ditemukan di Amerika dalam waktu 1 tahun. PK di Indonesia pada bulan Januari 2005 dilaporkan mencapai 100 kasus, dimana yang terkena adalah bayi/anak-anak yang berusia 3 bulan hingga 4 tahun. Diprediksikan di Indonesia akan terjadi 6000-7000 kasus PK dalam setahun.

Apa Gejala Penyakit Kawasaki?

Gejala dan tanda-tanda yang dapat muncul adalah sebagai berikut:

  • Badan panas tinggi bisa sampai 39-400C dan berlangsung lama (>5 hari).
  • Ruam kulit kemerahan dengan berbagai bentuk.
  • Tangan dan kaki sembab.
  • Kemerahan dan iritasi pada kedua belah putih mata.
  • Pembengkakan pada kelenjar lymphe (kelenjar getah bening) di leher.
  • Iritasi dan inflamasi pada bibir, rongga mulut dan tenggorokan.
  • Anak merasa tidak nyaman dan rewel.
Gambar dari library.thinkquest.orgGambar dari library.thinkquest.org 

Faktor penyebab PK sampai saat ini belum diketahui dengan jelas namun tampaknya tidak menular dan tidak bersifat menurun. Beberapa hasil studi melaporkan bahwa factor yang penyebab penyakit ini adalah infeksi virus namun hingga saat ini data-data tersebut masih diperdebatkan. Memang diketahui bahwa sangat jarang terjadi dimana lebih dari 1 anak dalam sebuah keluarga yang terkena PK, dan kurang dari 2% dimana seorang anank terkena PK untuk kedua kalinya.

Bagaimana Penyakit Kawasaki dapat mengenai jantung?

Gambar dari bryanking.netGambar dari bryanking.net 

Bagian yang paling sering terkena dari jantung adalah pembuluh darah koroner. Bagian ini dapat melemah dan melebar (menonjol) dan menjadi aneurisma. Penggumpalan darah dapat terjadi pada area yang melemah ini, sehingga menyumbat arteri tersebut, dimana terkadang menyebabkan serangan jantung (heart attack). Aneurisma dapat juga pecah namun hal ini jarang terjadi. Perubahan lain yang dapat terjadi adalah peradangan/inflamasi pada otot jantung (miocarditis), dan pada kantong yang mengelilingi jantung (pericarditis).

Irama jantung yang abnormal (aritmia) dan radang pada katup-katup jantung (valvulitis) dapat juga terjadi. Biasanya semua masalah yang terjadi pada jantung tersebut akan menghilang dalam waktu 5-6 minggu, namun kadang kala kerusakan pada pembuluh darah koroner bisa menetap untuk waktu yang lama.

Bagaimana Caranya mengobati Penyakit Kawasaki?

Meskipun penyebab pasti PK belum diketahui, beberapa obat tertentu terbukti mampu untuk mengobati penyakit ini, Aspirin misalnya sering digunakan pada penyakit PK untuk menurunkan panas, mengurangi iritasi/ruam kulit, nyeri sendi dan dapat mencegah penggumpalan darah. Obat jenis lain seperti Intravenous Immunoglobulin (IVIG) dipakai untuk mengurangi resiko terjadinya kelainan/kerusakan pada pembuluh darah koroner, ini harus diberikan sedini mungkin.

Sebagian besar informasi dikutip dari AmericanHearth.org

Oleh Dr.F.S. Suherman, Sp.A  –  RSKI Denpasar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: