Forex


Apa itu Forex/Valas,….???

Forex atau disingkat dengan FX (dalam bahasa Indonesia sering disebut pertukaran valas-valuta asing) merupakan singkatan dari Foreign Exchange yang merupakan suatu mekanisme pertukaran nilai mata uang dari suatu mata uang yang berbeda ke mata uang lain. kegiatan forex ini terjadi sejak dahulu kala, dimana kebutuhan atas mata uang asing diperlukan untuk kegiatan perdagangan ke luar negeri dalam bentuk ekspor-mengirim barang keluar negeri, lalu pembayaran dalam bentuk mata uang asing maupun impor, pembelian barang dengan menggunakan mata uang asing. Kegiatan pertukaran mata uang ini sudah dilakukan sejak lama, namun belum dikomersialkan seperti sekarang ini.

Dahulunya, kegiatan Forex atau foreign exchange ini dilakukan oleh bank sentral negara-negara di seluruh dunia, dan kegiatannya tidak dilakukan sebebas sekarang ini. Kegiatan perdagangan valas (valuta asing) atau forex (foreign exchange) ini dilakukan selama 24 jam sehari, 5 hari seminggu dan berputar pada pasar-pasar di seluruh dunia. Bahkan kegiatan perdagangan ini tidak hanya dapat diakses oleh Bank sebagai pemodal besar, namun juga individu-individu yang ingin mencoba mendapatkan keuntungan dari mekanisme pasar forex.

Pasar perdangan mata uang asing dimulai dari hari senin pukul 05.00 di New Zealand dan Australia, kemudian dilanjutkan ke pasar Jepang dan Singapura pada pukul 07.00, lalu ke pasar eropa (Jerman dan Inggris) mulai pukul 13.00 dan akhirnya pasar Amerika pukul 20.00 sampai selesai dan kemudian berputar kembali ke siklus awal, mulai dari New Zealand kembali selama 5 hari seminggu. Pada hari sabtu dan minggu (akhir pekan-weekend) pasar pada umumnya libur. Libur terkadang juga terjadi ketika suatu negara mengalami libur nasional.

Perdagangan forex pada masa sekarang ini sangatlah mudah. Hanya dengan menggunakan komputer dan koneksi internet,bahkan dengan menggunakan handphone (PDA) anda sudah bisa bergabung dan mencoba untuk trading forex di internet dan melihat fluktuasi naik turunnya harga mata uang di seluruh dunia, serta mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dan beli. Transaksi forex juga bisa dilakukan secara offline melalui bank.

Apa tujuan transaksi Forex/Valas ?

Sudah pasti keuntungan. Namun, tujuan dari Forex atau valas ada 2. yaitu mendapatkan keuntungan berupa selisih harga beli dan harga jual. Suatu contoh sederhana, misalkan anda membeli USD $100 pada harga 10.000 rupiah perdolarnya, maka anda membutuhkan uang sekitar 1.000.000 rupiah. Nah, bila keesokan harinya harga dolar naik menjadi 10.500, maka keuntungan anda adalah selisih harga dikali dengan jumlah valas yang anda beli, yaitu sebesar : 500 x 100 = 50.000 rupiah. Lho, kalau turun gimana ? kalau turun, anda punya hak untuk tidak jual dahulu, dan menunggu sampai harganya naik kembali lalu dijual untuk mendapatkan keuntungannya.

Kabar baiknya, Forex mempunyai mekanisme dua arah, anda bisa beli dan anda bisa jual. Lho, kok bisa ? Untuk mekanisme beli, bisa anda baca di atas, namun untuk mekanisme jual, biasanya seorang pedagang melakukan peminjaman terlebih dahulu, kemudian dibeli kembali jika harganya turun. contoh : misalnya harga USD sekarang ini adalah 10.000 rupiah. anda menjual USD $100, dengan cara meneken kontrak bahwa anda akan mengembalikan $100 itu dalam jangka waktu tertentu. nah, anda telah mendapatkan uang sebesar 1.000.000 rupiah karena penjualan 100 doalr itu. Jika keesokan harinya harga USD menjadi 9500, maka anda segera beli lagi kemudian kembalikan ke peminjam tersebut sebesar 100 dolar. dan anda mendapatkan keuntungan berupa 500 x 100 = 50.000 rupiah.

Keuntungan kedua adalah anda bisa mendapatkan bunga atau selisih suku bunga atau swap. selisih bunga ini terkadang menguntungan namun terkadang merugikan. Jika selisih bunganya tinggi, anda bisa mendapatkan keuntungan. namun jika selisih bunganya minus, anda akan dikenakan bunga.

STOCHASTIC OSCILATOR

Merupakan alat analisis ciptaan George C Lane pada akhir 50-an. Seperti namanya, nilai kisaran pada indikator ini adalah 0-100 (oscillator). Stochastic Oscillator digunakan untuk menunjukkan posisi closing relatif  terhadap range transaksi dalam suatu periode tertentu. Pada dasarnya indikator ini dipakai untuk mengukur kekuatan relatif harga terakhir terhadap selang harga tertinggi dan terrendahnya selama selang periode yang kita inginkan.

Stochastic Oscillator terdiri dari dua garis yang disebut %K dan %D. Inti dari indikator ini adalah %K itu sendiri sedangkan %D adalah SMA dari %K. Bisa dikatakan bahwa %D adalah sebagai garis pengidentifikasian arah %K.

Jika kita lihat dari range Stochastic Oscillator yaitu 0-100, dapat dikatakan bahwa sebenarnya indikator ini tidaklah berbeda dengan RSI. Hanya saja dalam Stochastic perhitungan meliputi harga terendah, tertinggi dan closing price pada waktu yang ditentukan.

Secara matematis Stochastic Oscillator didefinisikan sbb:

pada periode tertentu.

Recent close = harga penutupan terakhir
Lowest Low = harga terendah selama periode yang ditentukan
Highest high = harga tertinggi selama periode yang ditentukan

Sedangkan untuk %D adalah SMA dari %K itu sendiri. Secara default biasanya nilai %K adalah 14 dan %D adalah 3. Pemilihan periode %D hanya sebesar 3 periode disengaja untuk meningkatkan sensitifitas dari %D itu sendiri. Pertanyaannya apakah bisa selain nilai tersebut. Tentu saja bisa seperti indikator lainnya. Namun ada beberapa jenis Stochastic Oscillator dimana kita tidak dapat mengganti besar %D. Kita akan pelaajri nanti.

Nah, mari lihat gambar dibawah ini. Untuk grafik kali ini saya menggunakan Tradex Executioner (Meta Trader) sebagai tampilan karena netdania kurang representatif dalam menampilkan indikator ini.

Tidak usah bingung dengan tampilannya yang agak hitam. Candle yang berwarna putih artinya bearish pattern sedangkan yang tidak berwarna adalah Bullish pattern. Tinggal anda sesuaikan saja. Toh, seorang trader profesional memang harus terbiasa dengan berbagai jenis tampilan dan chart yang ada. Ada banyak penyedia online forex trading chart, bukan hanya dua ini saja. Jika anda mau, anda dapat melakukan browsing melalui Google, maka anda akan menemukan berbagai penyedia layanan online forex trading dengan berbagai bentuk tampilan dan berbagai kelebihan yang mereka tonjolkan. Salah satu kelebiha Meta Trader adalah perihal kecepatannya dalam untuk dioperasikan dan juga kelengkapannya. Jika anda bertanya mengapa saya tidak memakai ini dari awal adalah karena memang hanya saya lebih terbiasa dengan netdania. Tapi tidak masalah sama sekali jika diharuskan memakai Meta Trader.

Fast, Slow dan Full Stochastic OscillatorSama seperti RSI yang juga oscilator indicator, kelebihan sekaligus kekurangan Stochastic adalah sensitifitasnya. Karena senstif maka dapat memberikan sinyal yang lebih dini dalam pemantauan pergerakan harga. Namun dengan demikian membuka celah munculnya berbagai sinyal palsu. Untuk mengurangi banyaknya sinyal palsu karena sensitifitas Stochastic maka diperlukan lebih dari sekedar %D untuk menghaluskannya. Garis %K pun dapat dihaluskan terlebih dahulu sebelum kemudian diolah kembali menjadi %D. Pengolahan ini membuat berbagai varian dari Stochastic Oscillator.

Fast Stochastic adalah nama lain dari Stochastic biasa (pada gambar diatas adalah Fast Stochastic). Apabila garis %K dimuluskan SMA 3 periode sebelum kemudian diolah kembali dengan SMA 3 peride berikutnya guna memperoleh garis %D maka akan diperoleh Slow Stochastic Oscillator. Sedangkan bila pemulusan menggunakan SMA dengan periode selain 3 untuk %K, Stochastic yang demikian dinamakan Full Stochastic Oscillator.

Dewasa ini pemulusan %K dari Stochastic bukan hanya menggunakan SMA tetapi dapat juga menggunakan WMA dan XMA. Jadi, sebenarnya bergantung pada mana yang menurut Anda cocok. Saya hanya akan membahas cara membaca untuk Fast Stochastic Oscillator, untuk varian lainnya sama saja dalam cara membacanya. Yang berbeda adalah sensitifitas dan keakuratannya saja. Dan jangan lupa ada penentuan periode disinii. Jika %K kita ubah periodenya menjadi lebih besar atau lebih kecil dari 14 maka juga kan menghasilkan keakuratan yang berbeda tergantung pair yang Anda transaksikan.

Gambar diatas adalah Full Stochastic Oscilaltor dengan menggunakan pemulusan 5 periode untuk %K-nya. Periode yang saya pakai disini adalah 14. Perhatikan perbedaannya dengan Fast Stochastic Oscillator yang telah saya berikan diatas. Full Stochastic terlihat lebih smooth dan halus.

Interpretasi Stochastic Oscillator

Ada beberapa informasi yang dapat kita peroleh dengan Stochastic oscillaotr. Namun secara umum tidak berbeda dengan informasi pada RSI dan SMA. Dan memang Stochastic Oscillator sebenarnya adalah gabungan dari kedua jenis indikator tersebut dengan cara perhitungan yang berbeda. Secara keseluruhan, indikator ini dapat kita gunakan untuk menentukan keadaan overbought/ oversold (yang artinya prediksi trend untuk jangka panjang), perpotongan antara %K dan %D (sebagai short term trend), dan Bullish/Bearish centerline.

Overbought / Oversold

Keadaan overbought/ oversold menurut Stochastic diperoleh bila garis %K telah memasuki batasan 20 dan 80 yakni dibawah 20 untuk oversold dan diatas 80 untuk overbought. Sama dengan RSI bukan? Harap diingat juga bahwa batasan 20/80 ini bukanlah batasan mutlak. Bisa saja 30/70 atau yang lain. Jadi jangan heran bila saya juga menggunakan batasan yang berbeda dalam menentukan kondisi overbought/ oversold dari situasi ini.

Keadaan overbought/ oversold ini akan memicu naik turunnya harga dalam jangka panjang. Apabila sedang terjadi kenaikan harga namun stochastic sudah menuju titik overbought-nyadan mulai meninggalkan area tersebut,itu berarti akan terjadi tekanan pada laju kenaikan harga yang pada akhrinya membuat harga kembali turun sampai keseimbangannya yang baru. Perhatikan gambar berikut. Untuk batasan overbought/ oversold kali ini saya menggunakan 25/75 (saya beri garis ungu) dan garis kuning menandakan %K meninggalkan area overbought/ oversold sehingga dapat kita katakan harga sedang menuju momentum kenaikannya.

%K and %D Crossing

Nah, kalau batasan overbougth/ oversold itu untuk trend jangka panjang, maka perpotongan %K dan %D ini kita gunakan untuk perubahan trend minor. Maksudnya begini, bila dalam suatu kondisi long Bullish trend, seringkali dalam pergerakannya kita menemukan trend-trend minor. Besarnya minor dan mayor disini sangat relatif, bergantung pada time line yang kita gunakan. Untuk time line jam-jam an misalnya, jangan remehkan minor trend ini karena pergerakannya bisa mencapai 50 point! Itu artinya lebih dari cukup untuk memperoleh keuntungan sampai 50 Dollar hanya dengan 1 lot dan mengandalkan minor trend.

Seperti kita ketahui sebelumnya %D merupakan MA dari %K yang tidak lain pencerminan dari perubahan harga. Jadi, sesuai dengan sifat MA dalam menentukan perubahan trend, setiap perpotongan antara %D dengan %K berarti adalah perubahan trend untuk jangka waktu singkat di depan. Kondisi Bullish terjadi bila garis %K memotong %D dari bawah dan sebaliknya trend Bearish diperoleh ketika %K memotong dari atas. Keadaan ini bisa saja berlangsung bahkan ketika kedua garis sedang dalam wilayah overbought/ oversold. Jika ini terjadi, itu artinya memang tekanan beli atau jual sedang kuat sekali sehingga akan terjadi kemungkinan harga menembus batas support dan ressistance-nya. Perhatikan gambar berikut:

Pada gambar barusan kita bisa melihat secara keseluruhan harga sedang bergerak naik namun demikian sering kali pada saat kenaikan harga, terjadi penurunan-penurunan singkat yang merupakan usaha para pembeli menurunkan harga namun tidak cukup kuat dalam menahan tekanan beli. Dalam kondisi demikian kita bisa mengambil dua keuntungan sekaligus yaitu pada trend dalam jangka panjang maupun dalam short term trend. Kedua kondisi ini dapat kita ketahui cukup dengan Stochastic Oscillator.

The CenterlineSama seperti oscillator lainnya, pada Stochastic Oscillator pun juga terdapat centerline yang dipatok pada nilai 50. Pembacaan centerline ini pun sama persis dengan cara pembacaan pada RSI. Bila %K memotong centerline dari bawah ini menandakan kondisi Bullish Centerline dan sebaliknya bila % K memotong dari bawah kondisi Bearish tercapai. Sederhana bukan? Namun demikian sejujurnya centerline crossover ini jarang digunakan karena seringkali terlambat memberikan rekomendasi buy/sell. Para analis lebih sering menggunakan perpotongan antara %D dengan %K.

Nah, sampai disini bahasan mengenai Stochastic Oscillator. Sebelum kita berpindah kepada indikator lainnya, perlu saya ingatkan kembali mengenai perihal karakter indikator oscillator seperti Stochastic ini. Hal yang menjadi kelebihan sekaligus kekurangan indikator yang bergerak dalam kisaran tertentu seperti ini adalah sensitivitasnya. Begitu juga pada Stochastic yang dapat bersifat sangat sensitif bila kita menggunakan periode yang tidak tepat. Penggunaan periode yang tidak tepat dapat membawa kita pada pengambilan keputusan yang salah yang pada akhirnya membawa kita pada kerugian besar.Untuk itu sangat disarankan Anda mencari periode yang terbaik pada indikator ini untuk setiap pairs. Besarnya bisa berbeda-beda. Semakin panjang periode yang dipakai maka grafik indikator akan semakin halus yang artinya ke-sensitifitas-annya akan berkurang. Disarankan juga untuk menggunakan Full Stochastic dalam penggunaan karena memang lebih halus dan dapat mengurangi grafik indikator yang terlalu keriting .

Moving Average

Merupakan indikator yang paling sering digunakan dan paling standar. Jika di Indonesiakan artinya kira-kira adalah rata-rata bergerak. Moving average sendiri memiliki aplikasi yang sangat luas meskipun sederhana. Dikatakan sederhana karena pada dasarnya metode ini hanyalah pengembangan dari metode rata-rata yang biasa kita kenal di sekolah (nah, ada gunanya juga bukan kita bersekolah?).

Moving average mempunyai tiga varian yang berbeda yaitu Simple Moving Average, Weighted Moving Average dan Exponential Moving Average. Masing-masing merupakan metode rata-rata bergerak, hanya saja cara me-rata-ratakannya yang berbeda satu sama lain.

A. Simple Moving Average (SMA)

Jika saya mempunyai data 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29 dan 30. Kemudian saya akan menerapkan metode SMA dengan 3 periode dan 4 periode maka hasilnya akan seperti ini:

Sampel SMA 3 periode
SMA 4 periode
23
24
25 = (23+24+25)/3 = 24
26 = (24+25+26)/3 = 25 (23+24+25+26)/4 = 24.5
27 = (25+26+27)/3 = 26 (24+25+26+27)/4 = 25.5
28 = (26+27+28)/3 = 27 (25+26+27+28)/4 = 26.5
29 = (27+28+29)/3 = 28 (26+27+28+29)/4 = 27.5
30 = (28+29+30)/3 = 29 (27+28+29+30)/4 = 28.5

Perhatikan gambar Simple Moving Average dengan periode 10 berikut:

Aplikasi SMA

Ada beberapa kegunaan dari SMA. Secara garis besar dapat digunakan untuk hal-hal berikut:1. Menentukan trend yang akan terjadi.

2. Menentukan titik support dan resistance.

3. Memuluskan indikator lain yang terlalu bergerigi.

Pada bagian ini saya akan membahas mengenai menentukan trend dengan memakai SMA. Menentukan titik resistance dan support serta memuluskan indikator saya bahas pada bagian lainnya dari CD ini (pasti saya bahas kok…., jangan khawatir.)

Nah,untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan lagi grafik SMA barusan:

Apakah Anda melihat sesuatu dari grafik ini (ayolah, sedikit lebih cerdas lagi……). Ya Benar! Disini dapat kita lihat bahwa apabila harga bergerak naik, SMA berada dibawah dari candlestick dan sebaliknya bila harga bergerak turun maka SMA berada diatas candlestick. Tentu saja penerapan periode yang tepat amat membantu disini. Apabila terjadi crossing antara harga dengan SMA, dapat kita ketahui bahwa akan terjadi perubahan arah trend.

Nah, bagaimana kalau kita menggunakan dua buah SMA dengan dua periode yang berbeda? Hmm.. sangat menarik. Kita akan segera tahu bagaimana hasilnya:

Lebih memudahkan bukan? Dengan penggunaan dua SMA dengan dua periode yang berbeda kita dapat lebih akurat lagi memprediksikan kemana harga akan bergerak. Apabila telah terjadi perpotongan antara harga dengan kedua SMA maka akan dipastikan harga kan berubah arahnya. Dengan demikian kita memiliki tiga buah perpotongan garis yaitu perpotongan antara SMA 20 dan SMA 40 dan perpotongan SMA 20 dengan harga serta perpotongan SMA 40 dengan harga. Dapat kita catat bahwa apabila rentang antara kedua SMA semakin besar maka kemungkinan trend akan terus berlangsung dan bila mulai terjadi penyempitan jarak diantara keduanya dan sampai terjadi perpotongan kebali, bisa disimpulkan bahwa trend sudah berakhir. Mudah bukan?

Lalu bagai mana dengan periode? Sayangnya sampai saat ini belum ada aturan pencarian periode yang tepat untuk dipakai. Memang perlu banyak-benyak berlatih dan mencoba (trial and error). Perlu Anda catat bahwa penggunaan periode dapat berubah-ubah menurut kebutuhan meskipun pada pair yang sama karena memang kondisi sebuah mata uang adalah dinamis dari waktu kewaktu.

Nah, saya sarikan penggunaan SMA untuk membaca trend dalam bentuk tabel sbb:

No Posisi SMA Arti
1 SMA berada dibawah harga. Kondisi bullish / trend naik.
2 SMA berada diatas harga. Kondisi bearish / trend menurun.
3 SMA memotong harga dari bawah. Perubahan trend menuu bearish.
4 SMA memotong harga dari atas. Perubahan trend menuju bullish.
5 SMA periode lebih pendek memotong
SMA periode lebih panjang dari bawah.
Perubahan trend menuju bearish.
6 SMA periode lebih pendek memotong
SMA periode lebih panjang dari atas.
Perubahan trend menuju bullish.
7 SMA dengan periode lebih panjang berada diatas
SMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bearish / trend menurun.
8 SMA dengan periode lebih panjang berada dibawah
SMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bullish / trend naik

MA dapat digunakan untuk menentukan arah trend, untuk menentukan proteksi, untuk masuk atau keluar (entry maupun exit) untuk meratakan (smoothing) gerakan-gerakan harga yang terlalu kasar, untuk sinyal konfirmasi dengan menggunakannya sebagai sinyal CrossOver,dsb.

Fungsi MA adalah meratakan gerakan pasar yang fluktuatif dan mengidentifikasikan arah pergerakan harga, juga dengan MA bisa menunjukan kekuatan trend dari kecuraman dari sudut garisnya.

Jenis-jenis Moving Average yang lain akan dibahas pada artikel terpisah

1. Simple Moving Average
SMA dihitung dengan cara menambahkan harga yang akan dihitung kemudian dibagi dengan periode lama waktunya. Harga yang dihitung biasanya adalah harga Close. Tapi bisa juga harga High, Low, atau rata-rata dari ketiganya.

2. Weighted (WMA), Exponential (EMA) dan Triangular MA
Beberapa trader beranggapan bahwa harga yang terakhir adalah lebih penting daripada harga yang lebih lama. Sehingga naik/turunnya MA itu, karena pengaruh harga terakhir bukan karena pengaruh data beberapa periode yang lalu. Sehingga harga yang terakhir diberi pemberat berupa bilangan bulat yang dikalikan kepada harga terakhir. Jika pemberat tersebut linier maka disebutlah WMA dan bila berbentuk exponensial disebut EMA. Sedang untuki Triangular MA, penekanan pemberatnya ada pada tengah-tengah periode.

3. Variabel MA dan Time Series MA.
Variable MA adalah EMA yang parameternya dapat berubah (Adaptif) berdasarkan volatilitas dari data. Sedang Time Series MA dihitung berdasarkan teknik linier regresi.

Tips 1
Timing entry dengan menggunakan Single Moving Average (SMA, WMA, EMA) adalah : Buy bila harga (umumnya Close) diatas rata-rata, Sell bila harga dibawah rata-rata.

Tips 2
Single Moving Average sering digunakan sebagai trend filter juga. Yaitu bila harga diatas rata-rata, maka ambillah posisi buy tapi gunakan indicator lain untuk Entry demikian untuk sebaliknya.


Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: