MENJADI SAKSI DIMULAI DARI KELUARGA


Maleakhi 4 : 5-6

Hari Tuhan bukanlah hari keselamatan tetapi hari penghukuman. Hari Tuhan adalah hari-hari yang banyak goncangan dan eskalasinya akan semakin kuat. Apa yang harus kita siapkan menjelang hari Tuhan ini? Ayat 6 à  Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.

Ini berbicara soal gereja yang memiliki kuasa dan roh Elia. Tuhan ingin memulihkan keluarga supaya jangan sampai  Tuhan memukul bumi sehingga musnah. Banyak bangsa yang tidak menghormati pemerintahnya tetapi mengutukinya. Jangan sampai spirit seperti itu, ada di dalam gereja, dimana anak-anak Tuhan tidak menghormati dan mulai mengutuki orangtuanya. Kita perlu untuk  melepaskan berkat bukan kutuk.

Hati bapa-bapa harus berbalik kepada anak-anak  dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya. Elia seorang bapa rohani yang mengasihi dan mendidik anak-anak rohaninya untuk menjadi lebih besar. Elia estafet ke Elisa. Abraham, bapa orang yang beriman estafet ke Yakub dan terus ke Ishak. Nama orang tua dalam budaya beberapa negara sangat penting. Di Amsal dikatakan nama baik perlu dijaga karena lebih berharga dari kekayaan apapun juga, tetapi ada yang menghancurkan nama baik itu. Kenapa? Karena peran orang tua yang tidak benar sehingga anak-anaknya memiliki kehidupan yang tidak benar juga.


Kita perlu berdoa untuk memberkati orangtua, pemimpin rohani, pemimpin bangsa, anak-anak, anak-anak rohani, dan karyawan di kantor, supaya ada pemulihan dari kutuk menjadi berkat.

Elisa mendapat berkat dan urapan yang sama dari Elia, demikian juga dengan kita asalkan kita mau, supaya roh dan kuasa Elia turun atas kita.

1 Sam 18 à ayat ini menceritakan mengenai Saul yang benci dengan Daud karena iri hati.  Daud mengalami masalah hubungan antara bapa dengan anak. Saul sebagai bapa mertua membenci bahkan ingin membunuh Daud, tetapi Daud tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi dengan kebaikan. Jika kita punya hati yang seperti Daud maka  perkenanan dan penyertaan Allah ada atas kita.

Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan, setara. Istri tunduk pada suami dan suami mengasihi istri. Di dalam ikatan perkawinan hukum ini berlaku, tetapi diluar bisa saja istrinya lebih tinggi posisinya dari suami. Tetapi di rumah suami tetap sebagai kepala rumah tangga.

Ketika dosa masuk di dalam kehidupan suami – istri, maka itu akan turun juga ke anak-anak. Adam dan Hawa diberkati dan kehidupan mereka indah pada waktu itu, tetapi ketika dosa masuk terjadi pembunuhan dan poligami di dalam keturunan keluarga ini. Sehingga menyebabkan hukum keluarga menjadi kacau.

Daud juga mengalaminya dengan anaknya Absalom, yang ingin mengulingkan dia dari tahta sebagai raja Israel. Sebenarnya Daud punya kuasa untuk menghukum Absalom tetapi tidak dilakukannya. Absalom mati dalam tangan Tuhan. Simei (keluarga Saul) juga mengolok dan mengutuki Raja Daud. Daud tidak membalas Simei walaupun dia bisa melakukannya tetapi dia serahkan kepada Tuhan.

Waktu Salomo naik tahta, Daud berpesan untuk memperhatikan Simei. Simei akhirnya mati oleh karena mengingkar perjanjian yang dibuat antara dia dengan Salomo. Inilah hati Daud, dia tidak mau tangannya berdarah dengan membunuh baik atasannya maupun bawahannya, sekalipun kesempatan itu ada.

Jika kita mengalami masalah seperti ini, kita harus meresponinya dengan benar. Hati kita harus memiliki hati yang mengampuni, itu adalah hati yang baik, hati yang telah dipulihkan.

Mari kita jaga keluarga kita dengan baik, supaya kita mendapatkan anugrah Tuhan.  Jika ada yang perlu dibereskan mari kita bereskan terlebih dahulu, baik dengan orangtua maupun dengan anak-anak kita. Baca Ef 6 : 1-9.

Kesimpulan :

Keluarga merupakan lembaga yang sangat penting di mata Tuhan. Dalam kitab Kejadian, Allah menciptakan keluarga (Adam dan Hawa) dan memberkati kehidupan mereka. Ketika dosa masuk, maka kehidupan keluarga ini mulai berantakan. Agar bisa menikmati berkat Tuhan dan dihindari dari kutuk bagi keturunan berikutnya , maka orang tua perlu menjaga kehidupan keluarga yang baik, jauh dari segala kejahatan dan dosa. Kita bisa belajar dari Elia yang berhasil mendidik Elisa menjadi seorang nabi yang besar. Demikian juga dengan Raja Daud yang memiliki hati yang tidak mendendam tetapi penuh dengan pengampunan, sehingga anaknya Salomo menjadi raja yang besar. Dengan roh dan kuasa Elia, kita akan mampu untuk menjadi saksi dimulai dari keluarga.

Pertanyaan :

1.          Bagaimana menjaga agar berkat Tuhan senantiasa ada di dalam keluarga kita sampai kepada generasi berikutnya?

2.          Ambillah waktu untuk saling mendoakan keluarga atau anggota keluarga kita yang mungkin perlu pemulihan dalam kehidupan rumah tangga masing-masing. Biarlah Tuhan memberikan pengurapan agar hati bapa berbalik kepada anak dan hati anak kepada bapa.

Disadur dari kotbah Bpk. Pdt. Djohan Handojo

Editor : Marudut sihombing

Re_shared : https://marudutsihombing.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: