Allah menggambarkan diri-Nya sebagai “BAPA” kepada kita


“Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]” (Matius 6:9-13).

Allah mana selain Allah kita yang bisa kita panggil “Bapa”? Tidak ada, hanya Dia. Kita bayangkan bahwa Dia yang pencipta langit dan bumi adalah “Bapa kita”. “Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, …” (Hagai 2:9), Dialah Bapa kita.

Mengapa Allah menggambarkan diri-Nya sebagai “Bapa” kepada kita? Sebab manusia sangat membutuhkan figur seorang ayah.

Ada sebuah kisah nyata dari Spanyol: seorang ayah mempunyai anak bernama “Paco”. Anaknya lari dari rumah, dan ayahnya mencarinya berbulan-bulan tetapi tidak menemukan anaknya. Akhirnya ayahnya memasukkan iklan di surat kabar dengan menuliskan: “Paco sayang, temui aku di depan kantor surat kabar ini hari Sabtu jam 12 siang. Aku mengasihimu dan mengampunimu.” Apa yang terjadi kemudian? Hari Sabtu jam 12 siang di depan kantor surat kabar itu ada 800 Paco, yang berarti 800 Paco yang berkumpul itu semuanya bermasalah dan membutuhkan kasih seorang ayah.

Ada sebuah statistik yang menyatakan:
1. Orang-orang yang kehilangan kasih bapa akan tumbuh dengan kelainan perilaku, kecenderungan bunuh diri dan menjadi kriminal yang kejam.
2. Kurang lebih 70 % penghuni penjara dengan hukuman seumur hidup adalah orang-orang yang bertumbuh tanpa ayah.

Ada sebuah statistik lain yang menyatakan: “Sebuah keluarga kalau ibunya rohani, sedangkan ayahnya tidak rohani maka 30% dari anak-anaknya yang rohani. Tetapi sebaliknya kalau di dalam suatu keluarga kalau ayahnya rohani (ibunya tidak disebutkan rohani / tidak, tetapi biasanya juga rohani) maka 70% dari anak-anaknya yang rohani.” Di sini tidak berarti
mengecilkan arti seorang ibu, tetapi kenyataannya seperti itu.

Kalau Sobat semua membaca di Mazmur 128: kalau seorang suami / kepala keluarga takut akan Tuhan, maka isterinya akan seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahnya dan anak-anaknya akan seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejanya.

Banyak orang yang berkata: “Saya tidak bisa mengenal kasih Bapa yang di sorga karena melihat bapa saya yang di dunia ini luar biasa kejamnya.” Memang ada bapa di dunia ini yang kejam, tetapi ada juga yang bapanya “kejam” untuk mendisiplinkan anaknya tetapi anaknya tidak bisa menerima.

Kadang-kadang di dalam pembahasan ini kita berat sebelah, ada yang terlalu membela anak tetapi ada juga yang terlalu membela bapa. Harus yang seimbang, bapa-bapa harus menjalankan didikan sesuai dengan Firman Tuhan.

“Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.” (Amsal 23:13-14).

“Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.” (Amsal 19:18).

“Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” (Amsal 13:24).

Kadang-kadang di dalam keadaan seperti ini anak tidak bisa menerima, tetapi ada ayat untuk anak-anak: Amsal 13:1, “Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya, tetapi seorang pencemooh tidak mendengarkan hardikan.” Jangan menjadi seorang pencemooh, tetapi jadilah anak yang bijak.

Kalau 2 hal ini dikombinasikan maka semuanya pasti beres, tetapi ternyata tidak semudah itu. Saya berbicara diantara kita orang-orang yang mengenal Firman Tuhan, bukan di antara orang-orang dunia yang kejam. Tuhan tahu akan keadaan yang seperti ini, tidak mudah. Bapanya seperti ini sedangkan anaknya seperti itu, tidak mudah. Tetapi Tuhan turun tangan.

Kalau kita membaca di dalam Maleakhi 4:5-6: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.”

Inilah kasih Tuhan. Memang kadang-kadang permasalahan antara bapa dan anak tidaklah sederhana. Siapakah nabi Elia yang diutus Tuhan? Apa yang dimaksudkan hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu? Hal ini berbicara tentang hari kedatangan Tuhan Yesus yang pertama maupun yang kedua.

Menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang pertama yang dimaksudkan dengan nabi Elia adalah Yohanes Pembaptis. Menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang untuk kedua kalinya yang dimaksudkan nabi Elia adalah Gereja Tuhan
yang memiliki pelayanan dengan roh dan kuasa Elia.

Ada satu kesaksian lagi dari anak muda yang sakit hati kepada ayahnya karena ayahnya sangat acuh kepadanya. Kadang dia ingin memeluk ayahnya tetapi ayahnya tidak mau, sehingga dia sakit hati kepada ayahnya. Pada waktu anak ini ikut Healing Movement Camp dia sadar, bertobat, dan menangis di hadapan Tuhan. Kemudian dia datang kepada ayahnya yang sedang sakit lever di rumah sakit dan akan dioperasi. Pada waktu dia datang kepada ayahnya dia memeluknya dan mereka saling berpelukan, dan mujizat terjadi: pada saat itu juga ayahnya sembuh dari sakit lever.
Kalau kita melihat kasih Kristus itu memang luar biasa, betapa lebar – panjang – tinggi – dalamnya dan melebihi segala pengetahuan. Tidak masuk akal, tetapi itulah yang terjadi.

Mari kita petik hikmat dari cerita berikut,yang tertulis di kitab lukas,yang begitu besar kasih Bapa itu,.
PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG

Ini adalah perumpamaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus: ada seorang bapa yang mempunyai 2 orang anak yaitu anak bungsu dan anak sulung. Lukas 15:12-22, “Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya [bagi orang Yahudi babi adalah binatang haram, jadi pekerjaan menjaga babi adalah benar-benar hina].

Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Anak bungsu ini mau kembali ke rumah bapanya. Keputusan seperti ini sangatlah penting. Kadang-kadang saya melihat anak terhilang yang tidak bisa kembali lagi kepada bapanya, karena tidak mengambil keputusan seperti anak bungsu ini. Mungkin ada di antara Saudara yang seperti ini, engkau sedang mengalami pergumulan, keadaanmu sedang tidak baik. Ayo, cepat ambil keputusan seperti anak bungsu ini untuk kembali kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.”begitulah gamabran Kasih Bapa kita terhadap kita.

“Ada juga kisah seorang pelukis Cina yang bertobat, dia mau menggambarkan kasih Bapa melalui kisah anak yang terhilang. Digambarkan di dalam lukisannya itu: anaknya pulang, tetapi bapanya menyambut anaknya itu dengan sikap yang agak cuek. Tetapi seorang teman pelukis itu mengatakan bahwa gambaran itu salah karena kasih Bapa tidak seperti itu. Dan akhirnya pelukis itu mendapatkan gambaran tentang kasih Bapa sebagai berikut: Bapanya sedang berlari, jubahnya berkibar-kibar, dengan muka yang berseri-seri Bapa menyambut anaknya yang pulang. Dan yang luar biasa di dalam lukisan itu adalah: kasut Bapanya berbeda antara yang kanan dan yang kiri, warna kasutnya juga berbeda. Itu karena bapanya sedang terburu-buru menyambut kedatangan anak-Nya yang terhilang itu.,Kasih Bapa memang seperti itu.”
kalaupun ada hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup ini,semuanya tak luput dari pandangan BAPA,percayalah BAPA pun tak ingin hal itu terjadi pada kita,jadi sobat sekalian yang di kasihi BAPA,bagaimana,..???bagi saya pribadi,walaupun terkadang terlalu berat dalam menjalani hidup ini,yang kutahu BAPAku tidak pernah meninggalkanku,DIA selalu memelukku,.Dia tak pernah meninggalkanku,..sobatku,ingatlah,.??tidak ada alasan bagi kita untuk berputus asa dan merasa tertolak, karena betapa lebar, panjang, tinggi, dalamnya kasih Bapa sekalipun melampaui segala pengetahuan.
Salam Kasih,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: