Archive for Desember, 2010

Alasan Mengapa kita harus Mengucap Syukur


Banyak agama-agama yang mengajar untuk bersyukur kepada Tuhan sesekali seperti, sebulan atau setahun sekali. Tetapi firman Allah mengajar kita untuk mengucap syukur setiap hari,  bukan sebagai pengetahuan/knowledge saja tetapi juga kita praktekkan. Jika kita tidak mau kehilangan kuasa Allah dalam hidup kita, naikkan ucapan syukur.  Semakin banyak kita besyukur, semakin pintu Surga terbuka dan kuasa Allah dicurahkan. Kita akan menikmati hasilnya dalam kehidupan kita setiap hari.

Alasan kenapa kita mengucap syukur

1.      Kehendak Allah ( I Tes 5 : 18 ). Bukan hanya dalam keadaan baik kita mengucap syukur tetapi dalam segala hal (dirugikan, ditipu, kesakitan dan kondisi yang tidak menyenangkan). Paulus mengatakan hal ini karena dia sudah mengalami banyak hal buruk (dianiaya, dipenjara, dirajam dan hampir mati), namun tetap mengucap syukur. Ucapan syukur adalah kesaksian iman kita. Seperti lilin, terangnya menyala ketika diberikan api dan seperti itu juga iman kita perlu dinyalakan dengan memberi kesaksian akan kasih Kristus. Dunia yang gelap ini membutuhkan kesaksian iman kita yang akan memberi terang melalui ucapan syukur. Kol 3 : 17 à Apa yang kita katakan dan lakukan biarlah kita mengucap syukur, dalam nama Tuhan Yesus.

Pengucapan syukur itu membuka iman kita mengerti bahwa Allah masih sanggup melakukan perkara yang besar. Ada kekuatan Allah, iman, kasih dan pengharapan dalam hidup kita, melalui ucapan syukur.

Mungkin ada keadaan dimana kita tidak mampu lagi, tetapi ucapan syukur yang kita naikkan menjadi persembahan korban ucapan syukur( Maz 50 : 23 a) itu memuliakan Tuhan. Korban perasaan, hati, waktu, tenaga dan uang. Korban artinya mati untuk daging, tanpa itu kita tidak bisa memuliakan Tuhan.

2.      Mempercepat jawaban doa kita. Fil 4 : 6 à jangan kuatir tetapi nyatakan segala keinginan kita dalam doa dan ucapan syukur. Kekuatiran ada pada setiap orang, soal kesehatan, ekonomi, jodoh, dsbnya. Tuhan katakan bahwa kekuatiran kita tidak akan memberi jawaban terhadap masalah kita. Allah akan menjawab doa-doa kita, melalui ucapan syukur. Cerita soal 10 orang kusta (Luk 17 : 11-19), Tuhan Yesus sembuhkan mereka semua tetapi hanya 1 yang kembali menyembah Tuhan Yesus dan mengucap syukur. Yang sembilan menerima kesembuhan secara fisik tetapi yang satu mendapatkan kesembuhan tubuh, jiwa dan roh, yang merupakan  keselamatan yang kekal dari Tuhan. Ini yang penting, keselamatan yang lengkap.   Biarlah kita senantiasa mengucap syukur karena Tuhan akan menolong kita dan mempercepat jawaban doa kita.

3.      Pintu untuk masuk ke hadirat Allah.  Maz 100 : 4 à bagaimana masuk ke dalam bait Allah (ke ruang Maha Kudus), yaitu dengan bersyukur. Ruang maha Kudus berbicara mengenai hadirat Allah. Jika Dia hadir pasti ada kesembuhan, pemulihan dan berkat.  Hadirat Allah sangat penting. Gereja tanpa hadirat Allah, maka lagu-lagu yang dinyanyikan akan monoton dan tidak berisi, begitu juga dengan doa yang dinaikkan tanpa kuasa dan tidak akan ada fellowship yang indah dan banyak hal-hal negatif yang terjadi. Akibat dari tidak mengucap syukur,  akan terjadi kemerosotan rohani yang berakibatkan kematian rohani.  Tidak mengucap syukur, kita akan banyak menggerutu dan mengomel ( II Tim 3 : 1-3), ini akan meracuni jiwa kita. Seperti bangsa Israel yang marah kepada Tuhan dan Musa, beberapa mereka harus mati karena tidak mengucap syukur.  Kematian rohani mendahului kematian jasmani.  Tidak mengucap syukur akan menjadi celah bagi iblis untuk menyerang pikiran kita. Jika iblis diberi tempat dan kita menikmatinya maka suatu saat kita akan mati secara rohani. Kita jadi malas ke gereja dan persekutuan. Iblis datang dengan pelan-pelan, tanpa kita sadari. Mari kita tutup celah itu dengan banyak mengucap syukur karena akan banyak mukjizat yang terjadi.

Kesimpulan :

Pengucapan syukur merupakan bagian dari kehidupan iman orang-orang percaya. Hanyalah di Alkitab, kita diajarkan untuk mengucap syukur dalam segala keadaan, baik atau tidak baik (I Tes 5 : 18). Untuk mengucap syukur dalam keadaan baik, semua orang dapat melakukannya termasuk orang yang tidak percaya. Ada kuasa supranatural Allah, jika kita dapat mengucap syukur dalam keadaan yang tidak baik (difitnah, dibenci, dikucilkan, dianiaya, kesakitan dsbnya).

Ada beberapa alasan mengapa kita perlu mengucap syukur. Biarlah dengan penjelasan diatas dapat membuka cara berpikir kita, sehingga kita dapat menjadi orang-orang yang hidup dalam kuasa, tuntunan dan kekuatan Allah. Kita akan menjadi orang-orang yang membawa dampak bagi banyak orang dan Allah dimuliakan melalui pengucapan syukur kita.

Pertanyaan :

1.      Mengapa pengucapan syukur itu begitu penting bagi kehidupan kita sebagai orang-orang percaya ?

2.      Berikan contoh pengalaman pribadi saudara soal pengucapan syukur sebagai persembahan korban yang memuliakan nama Tuhan.

3.      Apa akibatnya jika kita tidak mengucap syukur ?

(Dikutip dari kotbah bapak Pdt. Djohan Handojo)

Editor and Re_shared By : https://marudutsihombing.wordpress.com/

God is Love


Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya.- Ratapan 3:22

Bill tidak menerima banyak surat ketika ia bertumbuh dewasa. Ketika ayahnya berpergian, yang sering sekali dilakukannya, ia akan melakukan beberapa kali sambungan telepon jarak jauh. Ketika Bill akan pergi ke perkemahan musim panas atau beberapa perjalanan lainnya, ibu Bill-lah yang biasanya bertanggungjawab atas penulisan surat. Tetapi, sekali-kali, ketika ayahnya sedang berada dalam perjalanan bisnis yang diperpanjang, atau ketika Bill berada di perguruan tinggi selama beberapa bulan, ia akan menerima surat dari ayahnya. Sejujurnya, Bill tidak begitu ingat isi surat-surat tersebut. Yang ia ingat adalah cara ayahnya menutup suratnya kepada Bill. Tanpa pernah terlewatkan sekalipun, kalimat terakhir dari surat ayah Bill selalu mengatakan hal yang sama: “Ingatlah untuk mengasihi orang-orang yang sangat membutuhkan kasih. Dari Ayah.” Tetapi beberapa surat yang diterima oleh Bill dari ayahnya selalu diakhiri dengan ungkapan yang sama. “Kasihilah orang-orang yang sangat membutuhkan kasih.”

Walaupun memiliki kekurangan sama seperti kita semua, kehidupan ayah Bill adalah sebuah kesaksian dari ungkapan di atas. Di samping semua aktivitas bisnisnya, setiap hari Minggu siang selama 25 tahun, ayah Bill akan memimpin nyanyian pujian dan pelajaran Alkitab bagi sekitar 100 wanita yang terbelakang di Rumah Sakit Negara Kalamazoo di Michigan. Ayah Bill bahkan bersedia untuk mengganti jadwal kepergiannya agar ia dapat segera pulang ke rumah dan berjumpa dengan wanita-wanita itu di minggu tersebut.

Ketika situasi para pengungsi dari Vietnam menghujani negeri mereka,  ayah Bill mengadopsi 4-5 keluarga, membawa mereka ke Kalamazo dan menyediakan rumah bagi mereka. Ia mencarikan pekerjaan dan mobil bagi mereka, dan membantu mereka untuk membuka usaha sendiri walaupun harus melewati banyak kesukaran.

Dalam perumpamaan mengenai anak yang hilang, kasih ayah kepada anaknya adalah kasih yang teguh. Kasih ayah tersebut tidak pernah berakhir walaupun sang anak telah mengambil separuh dari harta warisan yang disediakan baginya. Ketika sang ayah melihat anaknya dari jauh, ia memiliki belas kasihan atas putranya dan berlari menyongsong dia serta memberikan pelukan dan ciuman! Tuhan itu sama seperti sang ayah dalam perumpamaan tersebut. Kasihnya tidak berkesudahan.

Tuhan mengasihi kita sebagaimana kita adanya. Ia melakukan kehendak Tuhan dalam hidupNya. Ia menunjukkan kasih kepada mereka yang kita pikir sukar untuk dikasihi, seperti para pelacur, pemungut pajak, pendosa, dan orang-orang lain yang kita anggap sebagai sampah masyarakat. Ia mengampuni dosa kita dan menolong mereka untuk mencari jalan kembali kepada Tuhan! Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana kita harus mengasihi orang lain. Kita tidak dapat mengasihi orang lain dengan kasih kita sendiri. Kita perlu mempergunakan kasih Tuhan untuk mengasihi orang lain. Kita perlu melihat bagaimana Tuhan memandang mereka. Semua orang berharga bagi Tuhan.

Jika kasih Tuhan bagi kita tidak berkesudahan, bagaimana mungkin kasih kita berhenti?

Tantangan mengenai kasih yang teguh adalah bagaimana kita:-

  • Mengasihi mereka yang sulit untuk dikasihi
  • Mengasihi bahkan ketika sulit bagi Anda untuk mengasihi
  • Mengasihi tanpa mencari imbalan sebagai balasannya

Mari kita lihat apa yang harus kita lakukan untuk dapat mempraktekkan kasih yang teguh ini:

Pembahasan

Mengisi ulang tangki rohani Anda

Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya. -1 Sam 30:6

Ketika tekanan begitu banyak, Daud meninggalkan kerumunan, semua tuntutan yang ada dan semua kesempatan untuk melayani. Ia mengambil waktu untuk keluar. Ia kembali ke dasar, pergi menyendiri agar ia dapat memiliki percakapan yang lama dengan Tuhan. Ia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Ia mengingatkan dirinya sendiri akan kasih dan janji Tuhan kepadanya serta kesediaan Tuhan untuk menolongnya. Jadi Daud mengambil waktu untuk menikmati kasih Tuhan. Ia harus ingat bahwa dirinya berarti bagi Tuhan, dan bahwa ia adalah anak Allah.

Yesus melakukan hal yang sama. Setelah menyediakan waktu yang lama untuk mengasihi, melayani, memimpin, menasehati dan mengajar orang-orang, Ia akan meninggalkan orang banyak dan pergi ke gunung untuk berdoa. Kadang-kadang Ia akan menyeberangi Laut Galilea untuk mengisi diriNya sendiri melalui percakapan dengan Bapa. Jika orang-orang seperti Daud dan Yesus perlu pergi dan mengisi diri mereka secara rohani, begitu juga dengan kita!

Jika Anda tidak memiliki kebiasaan yang teratur untuk menyisihkan waktu dengan Tuhan, buatlah komitmen untuk menyisihkan waktu mempelajari Alkitab dan berdoa setiap hari. Bisa pada pagi hari, sore, atau pada saat makan siang. Waktu yang Anda pilih tidaklah sepenting kenyataan bahwa Anda sedang menyisihkan waktu dengan Tuhan setiap harinya. Berada dalam hadiratNya akan mengisi ulang tangki Anda. Ketika Anda berbicara dengan Tuhan, Anda dapat menuangkan semua kesulitan dan beban Anda kepadaNya. Ia tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengar! Ingatlah bahwa Tuhan ingin memiliki persekutuan dengan Dia karena Ia menciptakan manusia untuk bersekutu denganNya! Dengan menyisihkan waktu bersama Tuhan, Anda menyesuaikan tujuan Anda kembali kepada Tuhan dan mengijinkan Dia untuk menolong Anda mengasihi orang lain yang kelihatannya sukar untuk dikasihi!

Mengisi ulang tangki emosional

Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat    TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.- Keluaran 20:9-10

Ada satu tolak ukur yang perlu Anda perhatikan dalam usaha untuk mengasihi orang lain dalam jangka panjang – ukuran bahan bakar emosi Anda. Percaya atau tidak, Anda dapat membuat persediaan rohani Anda terisi dan tetap merasa bahwa kita kekurangan kasih. Jika hal ini terjadi, hal ini mungkin disebabkan karena Anda telah menghabiskan persediaan emosi Anda. Anda dapat menikmati persekutuan yang indah dengan Tuhan dan tetap tidak memiliki kerinduan untuk mengasihi orang lain karena Anda kosong secara emosi. Dua hal yang dikatakan oleh para ahli untuk membantu kita tetap segar secara emosional adalah bersantai dan berekreasi. Jika kita menyisihkan waktu untuk hal ini, kita akan menjaga tangki kita untuk tetap penuh. Jika kita mengabaikan hal ini, kita sebenarnya sedang mencari kesukaran.

Tuhan menciptakan hari sabat bagi manusia. Ia bahkan memberikan instruksi kepada manusia untuk beristirahat! Kita adalah manusia dan kita tidak dapat bekerja terus menerus. Bahkan mesin pun memerlukan waktu untuk beristirahat! Untuk beberapa orang, bersantai dapat dilakukan secara alami. Untuk orang lain, bersantai dan berekreasi itu seperti mencabut gigi. Jika Anda merasa berada di bawah secara emosional, sisihkan waktu untuk bersenang-senang dan berekreasi di minggu yang akan datang. Jika Anda tidak memiliki hobi atau hal menyenangkan untuk dilakukan, cari beberapa kegiatan. Hubungi teman yang baik dalam hal bersantai dan bermain-main dan mintalah mereka untuk mengajak Anda untuk pergi dan mengajarkan Anda bagaimana caranya untuk bersantai! Ketika Anda santai, Anda dapat mengasihi orang lain dengan mudah. Jika secara emosional Anda tidak dapat bersantai, Anda tidak dapat mempraktekkan kasih yang teguh.

Menjaga tangki fisik Anda untuk tetap penuh

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! – 1Korintus 6:19-20

Ada satu ukuran lagi yang perlu Anda perhatikan. Apa yang terjadi pada hubungan Anda ketika Anda lelah secara fisik? Anda tahu apa yang akan terjadi. Terjadi perang, atau hubungan mulai mati karena terabaikan. Saya menemukan bahwa ada banyak orang yang mengembara – yang lelah secara fisik. Banyak dari mereka tidak sadar bahwa hal ini melemahkan usaha mereka untuk mengasihi orang lain. Mereka tidak sadar bahwa diperlukan energi – bukan hanya energi secara rohani dan emosional saja – tetapi juga energi secara fisik – untuk sungguh-sungguh melayani seseorang. Orang yang lelah secara fisik tidak dapat menghimpun energi seperti itu. Dan orang yang lelah cenderung untuk mudah tersinggung, kritis, bertahan, dan negatif. Kita perlu menjaga agar tangki fisik kita diisi jika kita ingin teguh dalam mengasihi orang lain.

Jika Anda memiliki kebiasaan makan yang buruk, tubuh Anda tidak berbentuk, gagal untuk memiliki waktu tidur yang cukup secara teratur, atau memperlakukan tubuh Anda dengan buruk dalam cara apapun juga, buatlah komitmen dengan diri Anda  untuk memutuskan beberapa kebiasaan yang buruk dan memulai beberapa kebiasaan yang baik. Ini adalah satu area di mana dorongan dan pertanggungjawaban dari teman-teman adalah hal yang penting. Mintalah seorang teman untuk mendukung Anda ketika Anda mengembangkan kebiasaan baru untuk mempedulikan kesehatan fisik Anda. Semuanya bermula dari pikiran dan kemudian bergerak menjadi suatu tindakan. Ingatlah bahwa kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. (Efesus 2:10). Jadi jika Anda ingin melayani Tuhan dalam potensi yang tertinggi, mulailah untuk merawat tubuh Anda secara fisik. Jika Anda sehat (Anda tidak akan mudah tersinggung, suka bersungut-sungut, atau menjadi negatif), Anda akan memiliki lebih banyak energi untuk membagikan kasih yang teguh dengan orang lain.

Diskusi

1.        Siapakah yang telah menjadi contoh kasih yang teguh dalam hidup Anda?

2.        Menurut Anda, apakah artinya mencari kekuatan dari Tuhan?

Jika Anda ingin memiliki kasih yang teguh dan peduli pada orang lain dalam jangka waktu yang panjang, kita perlu belajar untuk mengukur kehidupan kita dan memastikan bahwa level tangki kita tidak terlalu rendah. Dengan menggunakan grafik di bawah ini, ambillah waktu untuk mereview 3 area yang telah kita diskusikan.

Tangki rohani Anda

|——–|——–|———-|—————|

Kosong  Rendah   1/2 penuh Penuh     Melimpah

Tangki emosi Anda

|——–|——–|——–|—————|

Kosong  Rendah   1/2 penuh Penuh     Melimpah

Tangki fisik Anda

|——–|——–|——–|—————|

Kosong  Rendah   1/2 penuh Penuh     Melimpah

3.        Area mana dalam kehidupan Anda yang tingkatnya paling rendah, dan apa yang Anda perlu lakukan untuk mengisinya di area ini?

4.        Area mana dalam kehidupan Anda yang tingkatnya paling tinggi, dan apa yang dapat Anda lakukan untuk menjadi pendorong bagi orang lain di area ini?

Kesimpulan

Untuk memiliki kasih yang teguh, kita harus memastikan bahwa tangki rohani, emosi dan fisik kita berada dalam tingkat yang sehat. Kita tidak dapat mengasihi orang lain dengan kasih yang teguh jika salah satu dari 3 area di atas rendah atau kosong. Kita perlu untuk terus menerus mengisi ulang diri kita dan mencari Tuhan setiap hari serta melakukan bagian kita dalam menjaga agar emosi dan fisik kita tetap sehat!

Disadur dari Pelajaran mengenai Kasih oleh Bill Hybels bersama dengan Kevin dan Sherry Harney

Re_Shared and Editing By :

https://marudutsihombing.wordpress.com

MENJADI SAKSI DIMULAI DARI KELUARGA


Maleakhi 4 : 5-6

Hari Tuhan bukanlah hari keselamatan tetapi hari penghukuman. Hari Tuhan adalah hari-hari yang banyak goncangan dan eskalasinya akan semakin kuat. Apa yang harus kita siapkan menjelang hari Tuhan ini? Ayat 6 à  Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.

Ini berbicara soal gereja yang memiliki kuasa dan roh Elia. Tuhan ingin memulihkan keluarga supaya jangan sampai  Tuhan memukul bumi sehingga musnah. Banyak bangsa yang tidak menghormati pemerintahnya tetapi mengutukinya. Jangan sampai spirit seperti itu, ada di dalam gereja, dimana anak-anak Tuhan tidak menghormati dan mulai mengutuki orangtuanya. Kita perlu untuk  melepaskan berkat bukan kutuk.

Hati bapa-bapa harus berbalik kepada anak-anak  dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya. Elia seorang bapa rohani yang mengasihi dan mendidik anak-anak rohaninya untuk menjadi lebih besar. Elia estafet ke Elisa. Abraham, bapa orang yang beriman estafet ke Yakub dan terus ke Ishak. Nama orang tua dalam budaya beberapa negara sangat penting. Di Amsal dikatakan nama baik perlu dijaga karena lebih berharga dari kekayaan apapun juga, tetapi ada yang menghancurkan nama baik itu. Kenapa? Karena peran orang tua yang tidak benar sehingga anak-anaknya memiliki kehidupan yang tidak benar juga.


Kita perlu berdoa untuk memberkati orangtua, pemimpin rohani, pemimpin bangsa, anak-anak, anak-anak rohani, dan karyawan di kantor, supaya ada pemulihan dari kutuk menjadi berkat.

Elisa mendapat berkat dan urapan yang sama dari Elia, demikian juga dengan kita asalkan kita mau, supaya roh dan kuasa Elia turun atas kita.

1 Sam 18 à ayat ini menceritakan mengenai Saul yang benci dengan Daud karena iri hati.  Daud mengalami masalah hubungan antara bapa dengan anak. Saul sebagai bapa mertua membenci bahkan ingin membunuh Daud, tetapi Daud tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi dengan kebaikan. Jika kita punya hati yang seperti Daud maka  perkenanan dan penyertaan Allah ada atas kita.

Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan, setara. Istri tunduk pada suami dan suami mengasihi istri. Di dalam ikatan perkawinan hukum ini berlaku, tetapi diluar bisa saja istrinya lebih tinggi posisinya dari suami. Tetapi di rumah suami tetap sebagai kepala rumah tangga.

Ketika dosa masuk di dalam kehidupan suami – istri, maka itu akan turun juga ke anak-anak. Adam dan Hawa diberkati dan kehidupan mereka indah pada waktu itu, tetapi ketika dosa masuk terjadi pembunuhan dan poligami di dalam keturunan keluarga ini. Sehingga menyebabkan hukum keluarga menjadi kacau.

Daud juga mengalaminya dengan anaknya Absalom, yang ingin mengulingkan dia dari tahta sebagai raja Israel. Sebenarnya Daud punya kuasa untuk menghukum Absalom tetapi tidak dilakukannya. Absalom mati dalam tangan Tuhan. Simei (keluarga Saul) juga mengolok dan mengutuki Raja Daud. Daud tidak membalas Simei walaupun dia bisa melakukannya tetapi dia serahkan kepada Tuhan.

Waktu Salomo naik tahta, Daud berpesan untuk memperhatikan Simei. Simei akhirnya mati oleh karena mengingkar perjanjian yang dibuat antara dia dengan Salomo. Inilah hati Daud, dia tidak mau tangannya berdarah dengan membunuh baik atasannya maupun bawahannya, sekalipun kesempatan itu ada.

Jika kita mengalami masalah seperti ini, kita harus meresponinya dengan benar. Hati kita harus memiliki hati yang mengampuni, itu adalah hati yang baik, hati yang telah dipulihkan.

Mari kita jaga keluarga kita dengan baik, supaya kita mendapatkan anugrah Tuhan.  Jika ada yang perlu dibereskan mari kita bereskan terlebih dahulu, baik dengan orangtua maupun dengan anak-anak kita. Baca Ef 6 : 1-9.

Kesimpulan :

Keluarga merupakan lembaga yang sangat penting di mata Tuhan. Dalam kitab Kejadian, Allah menciptakan keluarga (Adam dan Hawa) dan memberkati kehidupan mereka. Ketika dosa masuk, maka kehidupan keluarga ini mulai berantakan. Agar bisa menikmati berkat Tuhan dan dihindari dari kutuk bagi keturunan berikutnya , maka orang tua perlu menjaga kehidupan keluarga yang baik, jauh dari segala kejahatan dan dosa. Kita bisa belajar dari Elia yang berhasil mendidik Elisa menjadi seorang nabi yang besar. Demikian juga dengan Raja Daud yang memiliki hati yang tidak mendendam tetapi penuh dengan pengampunan, sehingga anaknya Salomo menjadi raja yang besar. Dengan roh dan kuasa Elia, kita akan mampu untuk menjadi saksi dimulai dari keluarga.

Pertanyaan :

1.          Bagaimana menjaga agar berkat Tuhan senantiasa ada di dalam keluarga kita sampai kepada generasi berikutnya?

2.          Ambillah waktu untuk saling mendoakan keluarga atau anggota keluarga kita yang mungkin perlu pemulihan dalam kehidupan rumah tangga masing-masing. Biarlah Tuhan memberikan pengurapan agar hati bapa berbalik kepada anak dan hati anak kepada bapa.

Disadur dari kotbah Bpk. Pdt. Djohan Handojo

Editor : Marudut sihombing

Re_shared : https://marudutsihombing.wordpress.com/

Allah menggambarkan diri-Nya sebagai “BAPA” kepada kita


“Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]” (Matius 6:9-13).

Allah mana selain Allah kita yang bisa kita panggil “Bapa”? Tidak ada, hanya Dia. Kita bayangkan bahwa Dia yang pencipta langit dan bumi adalah “Bapa kita”. “Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, …” (Hagai 2:9), Dialah Bapa kita.

Mengapa Allah menggambarkan diri-Nya sebagai “Bapa” kepada kita? Sebab manusia sangat membutuhkan figur seorang ayah.

Ada sebuah kisah nyata dari Spanyol: seorang ayah mempunyai anak bernama “Paco”. Anaknya lari dari rumah, dan ayahnya mencarinya berbulan-bulan tetapi tidak menemukan anaknya. Akhirnya ayahnya memasukkan iklan di surat kabar dengan menuliskan: “Paco sayang, temui aku di depan kantor surat kabar ini hari Sabtu jam 12 siang. Aku mengasihimu dan mengampunimu.” Apa yang terjadi kemudian? Hari Sabtu jam 12 siang di depan kantor surat kabar itu ada 800 Paco, yang berarti 800 Paco yang berkumpul itu semuanya bermasalah dan membutuhkan kasih seorang ayah.

Ada sebuah statistik yang menyatakan:
1. Orang-orang yang kehilangan kasih bapa akan tumbuh dengan kelainan perilaku, kecenderungan bunuh diri dan menjadi kriminal yang kejam.
2. Kurang lebih 70 % penghuni penjara dengan hukuman seumur hidup adalah orang-orang yang bertumbuh tanpa ayah.

Ada sebuah statistik lain yang menyatakan: “Sebuah keluarga kalau ibunya rohani, sedangkan ayahnya tidak rohani maka 30% dari anak-anaknya yang rohani. Tetapi sebaliknya kalau di dalam suatu keluarga kalau ayahnya rohani (ibunya tidak disebutkan rohani / tidak, tetapi biasanya juga rohani) maka 70% dari anak-anaknya yang rohani.” Di sini tidak berarti
mengecilkan arti seorang ibu, tetapi kenyataannya seperti itu.

Kalau Sobat semua membaca di Mazmur 128: kalau seorang suami / kepala keluarga takut akan Tuhan, maka isterinya akan seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahnya dan anak-anaknya akan seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejanya.

Banyak orang yang berkata: “Saya tidak bisa mengenal kasih Bapa yang di sorga karena melihat bapa saya yang di dunia ini luar biasa kejamnya.” Memang ada bapa di dunia ini yang kejam, tetapi ada juga yang bapanya “kejam” untuk mendisiplinkan anaknya tetapi anaknya tidak bisa menerima.

Kadang-kadang di dalam pembahasan ini kita berat sebelah, ada yang terlalu membela anak tetapi ada juga yang terlalu membela bapa. Harus yang seimbang, bapa-bapa harus menjalankan didikan sesuai dengan Firman Tuhan.

“Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.” (Amsal 23:13-14).

“Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.” (Amsal 19:18).

“Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” (Amsal 13:24).

Kadang-kadang di dalam keadaan seperti ini anak tidak bisa menerima, tetapi ada ayat untuk anak-anak: Amsal 13:1, “Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya, tetapi seorang pencemooh tidak mendengarkan hardikan.” Jangan menjadi seorang pencemooh, tetapi jadilah anak yang bijak.

Kalau 2 hal ini dikombinasikan maka semuanya pasti beres, tetapi ternyata tidak semudah itu. Saya berbicara diantara kita orang-orang yang mengenal Firman Tuhan, bukan di antara orang-orang dunia yang kejam. Tuhan tahu akan keadaan yang seperti ini, tidak mudah. Bapanya seperti ini sedangkan anaknya seperti itu, tidak mudah. Tetapi Tuhan turun tangan.

Kalau kita membaca di dalam Maleakhi 4:5-6: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.”

Inilah kasih Tuhan. Memang kadang-kadang permasalahan antara bapa dan anak tidaklah sederhana. Siapakah nabi Elia yang diutus Tuhan? Apa yang dimaksudkan hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu? Hal ini berbicara tentang hari kedatangan Tuhan Yesus yang pertama maupun yang kedua.

Menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang pertama yang dimaksudkan dengan nabi Elia adalah Yohanes Pembaptis. Menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang untuk kedua kalinya yang dimaksudkan nabi Elia adalah Gereja Tuhan
yang memiliki pelayanan dengan roh dan kuasa Elia.

Ada satu kesaksian lagi dari anak muda yang sakit hati kepada ayahnya karena ayahnya sangat acuh kepadanya. Kadang dia ingin memeluk ayahnya tetapi ayahnya tidak mau, sehingga dia sakit hati kepada ayahnya. Pada waktu anak ini ikut Healing Movement Camp dia sadar, bertobat, dan menangis di hadapan Tuhan. Kemudian dia datang kepada ayahnya yang sedang sakit lever di rumah sakit dan akan dioperasi. Pada waktu dia datang kepada ayahnya dia memeluknya dan mereka saling berpelukan, dan mujizat terjadi: pada saat itu juga ayahnya sembuh dari sakit lever.
Kalau kita melihat kasih Kristus itu memang luar biasa, betapa lebar – panjang – tinggi – dalamnya dan melebihi segala pengetahuan. Tidak masuk akal, tetapi itulah yang terjadi.

Mari kita petik hikmat dari cerita berikut,yang tertulis di kitab lukas,yang begitu besar kasih Bapa itu,.
PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG

Ini adalah perumpamaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus: ada seorang bapa yang mempunyai 2 orang anak yaitu anak bungsu dan anak sulung. Lukas 15:12-22, “Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya [bagi orang Yahudi babi adalah binatang haram, jadi pekerjaan menjaga babi adalah benar-benar hina].

Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Anak bungsu ini mau kembali ke rumah bapanya. Keputusan seperti ini sangatlah penting. Kadang-kadang saya melihat anak terhilang yang tidak bisa kembali lagi kepada bapanya, karena tidak mengambil keputusan seperti anak bungsu ini. Mungkin ada di antara Saudara yang seperti ini, engkau sedang mengalami pergumulan, keadaanmu sedang tidak baik. Ayo, cepat ambil keputusan seperti anak bungsu ini untuk kembali kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.”begitulah gamabran Kasih Bapa kita terhadap kita.

“Ada juga kisah seorang pelukis Cina yang bertobat, dia mau menggambarkan kasih Bapa melalui kisah anak yang terhilang. Digambarkan di dalam lukisannya itu: anaknya pulang, tetapi bapanya menyambut anaknya itu dengan sikap yang agak cuek. Tetapi seorang teman pelukis itu mengatakan bahwa gambaran itu salah karena kasih Bapa tidak seperti itu. Dan akhirnya pelukis itu mendapatkan gambaran tentang kasih Bapa sebagai berikut: Bapanya sedang berlari, jubahnya berkibar-kibar, dengan muka yang berseri-seri Bapa menyambut anaknya yang pulang. Dan yang luar biasa di dalam lukisan itu adalah: kasut Bapanya berbeda antara yang kanan dan yang kiri, warna kasutnya juga berbeda. Itu karena bapanya sedang terburu-buru menyambut kedatangan anak-Nya yang terhilang itu.,Kasih Bapa memang seperti itu.”
kalaupun ada hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup ini,semuanya tak luput dari pandangan BAPA,percayalah BAPA pun tak ingin hal itu terjadi pada kita,jadi sobat sekalian yang di kasihi BAPA,bagaimana,..???bagi saya pribadi,walaupun terkadang terlalu berat dalam menjalani hidup ini,yang kutahu BAPAku tidak pernah meninggalkanku,DIA selalu memelukku,.Dia tak pernah meninggalkanku,..sobatku,ingatlah,.??tidak ada alasan bagi kita untuk berputus asa dan merasa tertolak, karena betapa lebar, panjang, tinggi, dalamnya kasih Bapa sekalipun melampaui segala pengetahuan.
Salam Kasih,.

Kunci untuk Dapat menjadi Kuat


Bila kita memperhatikan setiap Firman Tuhan, maka Tuhan akan memberikan kepada kita pengertian dalam segala sesuatu, dan kita dapat melakukannya sehingga kitapun memperoleh kemenangan demi kemenangan. Allah menghendaki kita menjadi kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus, jangan kita menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja, tetapi harus memiliki suatu kekuatan ekstra, karena Allah kita kuat dahsyat, besar dan luar biasa.
Salah satu kunci untuk dapat menjadi kuat adalah, setelah kita mendengar Firman Tuhan, jangan kita simpan hanya untuk diri sendiri saja, tetapi harus kemudian dibagikan dan diberitakan kembali kepada orang lain dengan pimpinan Roh Kudus. Bila kita terus menerus memberitakan Firman Tuhan, maka kita justru akan bertambah kuat, karena apa yang kita bicarakan bukan sesuatu yang kosong, tetapi tentang Injil yang adalah kekuatan Allah, suatu kebenaran Firman tuhan kepada orang lain dan menyalurkan serta mulai mempraktekkan karuni Roh kudus yang sudah kita terima.
Setelah kita menjadi kuat, maka kita akan dapat menjadi Prajurit yang baik didalam Kristus Yesus, seperti seorang Atlit dan seperti seorang Petani.
Prajurit yang baik didalam Kristus Yesus, II Timotius 2:3


Sebagai seorang prajurit, tidak boleh memusingkan diri sendiri dengan hal-hal pribadi, tetapi harus taat kepada sang komandan. Apapun yang harus kita hadapi dalam kehidupan kita, kita harus maju terus karena seorang prajurit harus merelakan keinginan dagingannya.
II Samuel 11:14-15, contoh seorang prajurit yang taat kepada atasannya, meskipun ia ditempatkan pada posisi yang berbahaya, tetapi ia melakukannya dengan nyawa sebagai taruhannya, dialah Uria. Kita sebagai prajurit-prajurit Allah, maka kitapun harus taat dan tunduk pada komandan kita, pemimpin kita yaitu Roh Kudus. Supaya kita dapat tunduk kepada Allah.
Sebagai prajurit Allah kita harus menghadapi musuh kita, bukan musuh darah dan daging tetapi roh-roh jahat penguasa udara, iblis, dan untuk dapat mengalahkan musuh, kita harus memiliki seluruh perlengkapan senjata Allah. Musuh utama kita adalah diri sendiri, dan segala bentuk kedagingan kita, seperti malas, malas untuk berdoa, malas untuk merenungkan Firman Tuhan, malas beribadah, malas bekerja dan sebagainya, juga perasaan diri yang paling benar, membenarkan diri sendiri, tidak mau mengakui kesalahan untuk kemudian bertobat dan sebagainya.
Jangan biarkan iblis mampu dan menguasai kita dengan hal-hal yang tampaknya baik dan menyenangkan. Jagai hati dan pikiran kita dari tipu muslihat iblis dan roh-roh jahat, kita harus proaktif, jangan samapai setelah diserang baru kita melakukan reaksi tetapi harus terlebih dahulu maju menyerang si iblis sebelum dia menyerang kita.
Bila kita berdoa, memuji menyembah Allah dan membaca Firman Tuhan, lakukan dengan konsentrasi yang penuh, apabila kita di gerakkan Roh Kudus untuk bermanifestasi, ikuti saja, biarkan Roh Kudus beracara dalam hidup kita, Dia sebagai pribadi ingin dihormati oleh kita. Konsentrasi penuh dalam menyembah Allah, sampai pintu gerbang kerajaan si iblis pun terdobrak dan iblis dibuat gemetar. Kita sebagai prajurit Allah harus selalau siap bertempur dan mampu menggertak si iblis.

Sebagai seorang Atlit yang memperoleh mahkota sebagai juara, II Timotius 2:5

Setiap kita yang sudah mengalami kelahiran baru, mau tidak mau kita harus masuk dalam gelanggang pertandingan dan tentu saja kita harus berusaha untuk dapat keluar sebagai juara dan memperoleh mahkota. I Korintus 9:25-27, tiap-tiap orang yang kuat ambil bagian dalam suatu pertandingan harus menguasai diri dalam segala hal, kita harus menguasai diri kita, seluruh tubuh kita jangan dipergunakan untuk hal yang sia-sia.

Kita harus mengontrol diri kita apakah sudah siap untuk berlari sampai pada tujuan dan memperoleh hadiah. Seperti seorang atlit kitapun harus mendisiplinkan diri seperti dalam hal makan, makanan kita adalah Firman Allah yang dapat membuat roh kita semakin besar. Makan Firman, tidak hanya membaca tetapi sampai Firman Allah itu sungguh-sungguh menjadi rhema bagi kita, kita harus mentaati peraturan yaitu Firman Tuhan dan hidup dipimpin Roh Kudus.
Seorang petani yang bekerja keras dan yang menikmati hasil usahanya, II Timotius 1:6

Sang petani adalah orang yang tekun dan merawat tanamannya dengan penuh kasih supaya menghasilkan buah yang lebat untuk dinikmati banyak orang. Demikian halnya dengan kita, harus menjadi orang yang penuh kasih, tidak egois, tetapi harus peduli pada orang lain.

Seorang petani dialah yang pertama kali menikmati hasil usahanya. Bila kita melayani Tuhan dan bekerja diladang Tuhan, kitapun yang pertama kali menikmati hasilnya, kita dapat mengerti dan merasakan betapa Allah kita luar biasa. Tuhan tidak hanya menyediakan berkat jasmani yang dapat kita nikmati, tetapi lebih lagi berkat rohani atau berkat surgawi yang sudah disediakan bagi kita orang-orang yang mengasihinya.
Seperti seorang Prajurit, Atlit dan Petani, mereka adalah tipe-tipe yang mau bekerja keras, militan dan tidak pernah takut gagal, rajin berlatih, punya tujuan yang jelas dan tidak terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya. Kitapun harus demikian dalam melayani Tuhan dan bekerja di ladangnya, jangan kita memilah-milah pelayanan hanya dari luarnya saja dan tampak seperti terhormat, padahal karya Allah bisa bekerja melalui apa saja, jangan pernah batasi pekerjaan Allah, ikuti saja kemana kehendak Allah dalam kita melayani-Nya, bersikap seperti prajurit yang diperintahkan oleh komandannya, untuk masuk dan maju dalam medan peperangan.
Andalkan Tuhan, jangan andalkan kekuatan sendiri, mengandalkan kekuatan dan kedagingan kita hanya akan menyebabkan kita makin terjembab pada masalah yang sama, Marilah kita mulai untuk mecoba taat kepada Tuhan dalam segala hal, bersungguh-sungguh, berlari dengan tujuan yang pasti mencapai garis finish, keluar sebagai pemenang dan memperoleh hadiah mahkota yang dari Allah sudah disediakan bagi kita.
Sukses selalu,..