Membangunkan Wawasan Dunia Kekristenan


Banyak orang Kristen mungkin biasa dengan kata-kata Paulus dalam Efesus 6:10-13. Namun demikian banyak juga yang gagal memahami arti sebenarnya pemikiran Paulus ini. Kehidupan Kekristenan melibatkan kita dalam suatu peperangan, oleh kerana itu kita diminta untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah; namun kita cenderung berfikir bahwa perang itu hanyalah dalam dimensi spiritual dan moral. Memang perang itu bersifat spiritual dan moral, tapi perang disini lebih daripada sekadar itu, ada perang lain seperti segi intelektual. Ini adalah suatu peperangan di dalam idea-idea, teori-teori, praandaian-praandaian dan konsep nilai. Dunia telah menipu dan menekan kita, sehingga tanpa disedari, kita tidak lagi boleh berfikir tentang pelbagai perkara dari pandangan Kristian dan menerima saja pandangan yang disuguhkan kepada kita. Dalam peperangan ini, kita tidak boleh kalah. Oleh sebab itu kita akan belajar hal-hal ini dalam sesi ini.

Wawasan Dunia:
Setiap manusia membawa sebuah wawasan dunia di dalam kepalanya.

Apa itu wawasan dunia?
– “satu kumpulan keyakinan-keyakinan tentang realita, yang mewakili pandangan mutlak seseorang tentang kehidupan.” (W. Andrew Hoffecker)
– “seperangkat kepercayaan tentang isu-isu yang paling penting dalam hidup ini.” (Ronald H.Nash).

Itu seperti sepasang kaca mata di dalam fikiran manusia. Setiap manusia mempunyai sepasang kaca mata yang unik ini dan setiap kita boleh memiliki wawasan dunia / perspektif yang berbeda satu dengan yang lain. Tidak seorangpun yang tidak memiliki kepercayaan-kepercayaan fundamental seperti itu, akan tetapi banyak orang yang menjalani kehidupan mereka tanpa menyadari keyakinan mereka.

Jadi perspektif yang kita bawa masuk dalam fikiran kita, cara pandangan atas kepercayaan dan nilai yang di dalamnya kita menilai dunia ini, dan melaluinya kita memberi arti kepada kehidupan kita, yang kita sebut “WORLDVIEW” (Pandangan Dunia).

Worldview dibentuk dan dikembangkan dalam berbagai-bagai macam pengaruh: Latar belakang keluarga, budaya, sosial, system pendidikan yang telah kita ikuti pada masa-masa lalu, media masa yang mempengaruhi kita, semua pengajaran agama dan tradisi-tradisi bahkan pekerjaan yang sedang kita lakukan, semua ini membentuk dan mempengaruhi worldview kita.

Worldview kita dibentuk oleh pertanyaan-pertanyaan seperti:
• Siapakah saya?
• Apa ertinya menjadi seorang manusia?
• Apa akhir dari kenyataan hidup?
• Dan bagaimana kita dapat memiliki jalan kepada akhir kenyataan hidup?
• Apakah itu kebaikan dan apakah itu dosa?
• Apakah ada kepentingan yang terkait kepada sejarah manusia? Apakah tujuan akhir kehidupan yang harus kita capai?
• Apakah kematian akhir dari keberadaan manusia?

Lihatlah, ini semua adalah pertanyaan-pertanyaan mendasar dari kehidupan manusia dan cara hidup kita telah menunjukkan jawaban yang kita berikan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.:

Membangunkan Wawasan Dunia Kekristenan :



Setelah kita menerima Tuhan, Kristus mulai membentuk dalam kita sebuah worldview yang baru. Kita mengakui bahawa Yesus adalah Tuhan dan Yesus yang ini disalibkan, dibangkitkan dari antara orang mati dan Dialah Tuhan dan penguasa alam semesta. Yesus Kristus bukan hanya Tuhan atas umat / GerejaNya., tetapi juga atas alam semesta. Dakwaan ini sangat radikal, walaupun dunia tidak mengenal-Nya, walaupun dunia menolak untuk menerima-Nya sebagai Tuhan maka Yesus Kristus adalah Tuhan kepada segala budaya dan bangsa. Yesus Kristus adalah Tuhan kepada sistem politik dan pemerintahan, Yesus Kristus adalah Tuhan kepada system ekonomi dan ilmu ekonomi, Dialah Tuhan kepada ilmu sosial, Ia Tuhan atas teknologi dan sains, Ia Tuhan ke atas seluruh aspek kehidupan kita. Jadi sebagai mahasiswa Kristian, bagaimana kita dapat mengarahkan ilmu ini kepada memperTuhankan Kristus.

Apabila kita menjadi seorang Kristen, kita tidak boleh hidup dengan 2 set pemikiran. Tidak dapat melanjutkan untuk mempercayai apa saja, contoh : mempercayai kepercayaan teman-teman, dan hanya menerima kepercayaan mereka dalam ruang kuliah tetapi saat di Gereja dapat bertukar dengan menerima kepercayaan Kristiani. Kita tidak dapat hidup dengan 2 keperibadian ganda seperti ini. Kita tidak dapat membatasi kepercayaan itu hanya pada saat di Gereja kerana, itu bererti hanya di Gereja, Yesus dapat menjadi Tuhan. Dan sebenarnya banyak waktu dihabiskan di dalam kelas, atau dalam rumah atau dalam lingkungan bermain. Jadi apakah Yesus ada di sana? Ini adalah pertentangan kehidupan dan integrasi kehidupan Kristen. Mari kita buka Roma 12:1-2.

“”1. Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.2.Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.””

Jadi bagaimana respon kita kepada kemurahan Allah? yaitu dengan menyerahkan tubuh kita bagi Allah. Itulah ibadah penyembahan kita bagiNya. Ibadah adalah apa yang kita lakukan dalam dunia 24 jam sehari, apa yang kita lakukan dengan fikiran/otak kita, apa yang kita lakukan dengan mulut kita, apa yang kita lakukan dengan tangan dan kaki; jika semua itu ditujukan buat Yesus Kristus dan untuk melayani Kerajaan-Nya dalam dunia, maka itu adalah ibadah.

Jadi sekarang, bagaimanakah kita mengarahkan hidup kita dalam ibadah untuk Tuhan? Ayat 2 mengatakan 2 hal: 1 negatif dan 1 positif. Secara negatif Paulus menyatakan: “Jangan biarkan dunia sekitar kita memaksa kita dan membentuk kita menjadi …” Dengan perkataan lain, jangan seperti domba yang hanya mengikut domba lain, kita harus berdiri dan menjadi berbeda. Tetapi bagaimana kita menolak tekanan dari lingkungan sekitar kita? Bagaimana kita menjadi berbeda? Secara positif, Paulus berkata: “Berubahlah dalam pembaharuan budi (fikiranmu)” Dengan perkataan lain, biarkanlah kuasa Roh Kudus menggunakan Firman Tuhan untuk mengubah cara kita berfikir, atau kita perlu memiliki sebuah pemikiran Kristiani, yaitu sebuah Christian Worldview yang dapat menggerakkan emosi Kristiani, kebiasaan hidup Kristiani, reaksi Kristiani terhadap keadaan kehidupan yang selalu berubah cepat.

Hal ini tidak mungkin terjadi secara begitu saja, juga tidak akan terjadi secara tiba-tiba. Ini adalah sebuah perjalanan proses transformasi yang panjang. Ini seperti sebuah pertukaran. Pertukaran tidak terjadi sekali dan untuk sekaligus. Pertukaran adalah sebuah proses yang dimulai pada saat kita menyerahkan diri pada Kristus kerana sekarang Roh Kuduslah yang membentuk kita – untuk berfikir dan bertindak seperti Kristus.

Mari kita lihat bagaimana Yesus harus berulang-kali menegur murid-murid-Nya kerana cara berfikir mereka yang berbeza dengan-Nya. Ketika Yesus pergi dan menyentuh anak kecil, murid-murid berkata pada Yesus: “Jangan habiskan waktu-Mu bersama dengan kanak-kanak”, kerana dalam konteks sosial mereka, kanak-kanak tidaklah penting. Yesus adalah seorang yang sangat penting dan jika Dia orang penting tentunya Dia tidak akan menghabiskan waktu dengan orang-orang tidak penting. Tetapi mengapa Yesus mahu berada di tengah-tengah orang tidak penting, mengapa Dia mahu menghabiskan waktu bersama orang berpenyakit kusta dan pelacur, dengan orang najis? Disinilah Yesus sedang menentang cara berfikir orang-orang pada saat itu dan Ia berkata, “Dalam Kerajaan Allah: Sesiapa yang mahu menjadi yang terkecil di mata dunia, dialah yang sesungguhnya akan menjadi yang terbesar, jika kamu tidak mahu menjadi anak kecil, tidak mahu dipelakukan seperti anak kecil, kamu tidak dapat menjadi muridKu.”

Dalam kesempatan lain, Ia berkata kepada mereka: “Betapa sulitnya seorang yang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lubang jarum daripada seorang kaya masuk dalam Kerajaan Allah.” Kebudayaan mereka seperti kebudayaan lainnya, adalah jika kaya itu ertinya diberkati Tuhan. Jika berhasil dan makmur itu kerana Allah beserta dan jika kita menderita, Allah tidak beserta dan mungkin karena kurang beriman. Sekarang Yesus menentang segala pemikiran yang salah tersebut dan Ia berkata “Orang kaya dan berkuasa bukanlah kerana Allah hadir dalamnya. Jikalau mereka tidak bersedia melepaskan dan melepaskan harta benda, menyerahkan kuasanya dan mengenakan ketidakberdayaan, mereka tidak mungkin masuk Kerajaan Allah.” Jadi setiap pertobatan dari pada orang kaya adalah mukjizat kerana bagi seorang kaya dipertobatkan pada Kristus artinya mulai sekarang mereka harus mengidentifikasikan diri bersama dengan orang miskin.

Tidakkah kita lihat bagaimana Alkitab memutarbalik nilai hidup kita? Dan apabila cara pemikiran kita belum diputarbalikkan oleh Yesus, artinya kita belum mengenali Yesus. Kita mungkin memanggil diri kita sebagai orang Kristen, mungkin kita sudah terlampau terlibat dalam pelayanan, tetapi kita tidak mengenal siapa Yesus. Yesus membalikkan pemikiran demikian dan saat pemikiran kita dibalikkan arahnya, maka hidup kitapun berubah, itulah artinya kita hidup dengan pemikiran yang diperbaharui oleh Yesus. Kita harus belajar menghidupkan seluruh cerita dalam Alkitab kerana hanya hidup seperti kata Alkitab kita akan bertemu dengan Allah.

Allah telah memilih memperkenalkan diri-Nya kepada dunia dengan terlibat dalam sejarah manusia dan Alkitab adalah kesaksian daripada Allah kepada dunia tentang apa yang telah Ia lakukan dalam sejarah. Oleh itu Alkitab datang kepada kita sebagai sebuah cerita yang bermula daripada kitab Kejadian sampai kitab Wahyu dan kita harus berdiam dan menenggelamkan diri dalam cerita yang dimulai dari sepasang lelaki-wanita dalam taman Eden sampai kota baru yang akan datang dari Syurga ke dunia, dimana seluruh bangsa membawa pelbagai ragam mereka untuk memuji Dia. Jadi Allah memakai sejarah manusia dari penciptaan sampai ciptaan kedua (Hari Kiamat) dan kita harus belajar membaca Alkitab sebagai satu cerita dan menemukan ‘cerita kita’ dalam cerita besar Allah ini. Membaca dunia dimana kita tinggal melalui kacamata cerita Alkitabiah.

Dalam Alkitab terdapat 4 asas utama untuk memahami seluruh cerita Alkitab:
1. Penciptaan – seluruh alam semesta adalah ciptaan-Nya dan milik Allah. Itulah sebabnya penciptaan adalah baik.

2. Dosa dan Kejatuhan – saat dimana dunia tidak menjadi seperti apa yang Allah kehendaki semasa saat penciptaan. Itulah sebabnya kita tidak dapat hanya sekadar melihat dunia ini dan menemukan tujuan Allah untuk dunia kerana dosa pemberontakan melawan Allah dan kehancuran kita lihat dimana-mana. Kehidupan manusia begitu kompleks, campuran baik dan jahat. Jadi keadaan manusia telah tercemar oleh dosa dan segala yang baik telah dihancurkan oleh dosa. Contohnya, walaupun penemuan ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang menakjubkan dan indah, tetapi pada masa yang sama, ilmu pengetahuan boleh digunakan untuk berbuat dosa.

3. Penebusan – walaupun dunia kita telah tercemar oleh dosa, Allah masuk dalam dunia untuk menebus dan menjadikannya baru. Ia memanggil Israel untuk hidup dengan keadaan dimana mereka boleh memperlihatkan pada dunia, sifat-sifat Allah. Tetapi ketika Israel gagal memenuhi kehendak Allah, Allah memberikan diri-Nya sendiri, dalam diri Yesus. Ia membawa seluruh ciptaan kembali kepada-Nya. Dan melalui kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus, terjadi sebuah ciptaan baru tetapi ciptaan baru ini belum sempurna sehinggalah Kerajaan-Nya yang nyata tiba pada hari Kiamat. Oleh itu, dunia harus ditebus itulah asas keempat dan terakhir.

4. Penebusan terakhir – inilah visi terakhir cerita Allah, sebagaimana Ia telah berjanji membawa dunia yang baru, saat dimana Ia juga akan menghakimi kejahatan dan Ia akan membebaskan ciptaan-Nya dari kejahatan iaitu kebebasan daripada kehancuran.

Jadi keempat-empat asas ini adalah dasar Christian Worldview kita sekarang. Mari kita lihat aplikasinya ketika harus memandang dunia melalui empat perspektif ini. Misalnya, ketika dalam kampus sedang mendiskusikan ilmu pengetahuan. Dari perspektif penciptaan, apa yang dapat kita katakan tentang ilmu pengetahuan? Kita dapat katakan Allah-lah satu-satunya kebenaran yang mutlak. Semua pengetahuan berasal dari-Nya, walaupun orang-orang yang menemukan pengetahuan tidak mempercayai Allah. Allah adalah sumber pengetahuan. Jika Allah adalah sumber pengetahuan, Ia juga adalah pemilik setiap pengetahuan. Kita sebagai manusia tidak memiliki apa-apapun di dunia ini kerana dunia ini milik Allah. Jadi pemerintah dan orang-orang pintar tidak memiliki pengetahuan dirinya sendiri. Sayapun tidak memiliki pengetahuan. Bahawa saya memilikinya kerana hal itu telah dipertanggungjawabkan kepada saya. Saya adalah pengurus kepada ilmu pengetahuan. Otak dimana saya memiliki pengetahuan dan dimana saya memiliki semua ini adalah bukan milik saya. Mereka diberikan dan dipercayakan pada saya untuk melayani sesama manusia. Ilmu seharusnya digunakan untuk tujuan, bagaimana dunia memuliakan Allah, untuk memampukan orang lain bertumbuh menjadi seperti apa yang Allah kehendaki. Melihat dari perspektif penciptaan, seharusnya langsung menentang orang melihat apa yang Allah lihat tentang pengetahuan.

Sekarang kita lihat dari perspektif kedua dalam dunia yang berdosa: kita ingin menjadi pemilik, bukan pengurus pengetahuan. Maka banyak mahasiswa berfikir, pengetahuan yang saya dapat dalam bangku kuliah dan ijazah yang saya dapat dari kampus adalah milik saya. Itu akan memampukan saya memiliki status lebih tinggi dalam lingkungan masyarakat dan yang akan membuat hidup saya nantinya lebih selesa. Saya pakai pengetahuan ini untuk membuat saya lebih kaya daripada orang lain. Saya hidup dan memakai pengetahuan untuk membuat diri saya dan keluarga saya bahagia, tetapi tidak berfikir untuk melayani orang lain, khususnya melayani mereka yang tidak pernah berkesempatan belajar. Oleh kerana itu mengapa banyak orang-orang pintar tidak mahu tinggal di negara-negara membangun, mereka ingin tinggal di Amerika, Eropah, atau Australia; kerana mereka berfikir otak, fikiran dan kepintaran mereka adalah miliknya. Mereka tidak melihat bagaimana orang lain telah menyumbang dalam fikiran mereka, maka egoisme ini adalah akar dari kejahatan. Tetapi kita masih seringkali membenarkan diri hidup dengan keegoisan ini dengan memberikan alasan tidak dapat hidup cukup dengan tuntutan sosial seperti ini. Jadi demi kecukupan, saya harus ambil pekerjaan yang lebih baik di Luar Negeri. Jika hal ini terjadi, ertinya kita tidak dapat melihat dunia dari kacamata Kristiani. Apa yang seharusnya terjadi setelah kita ditebus? Bagaimana perspektif Penebusan seharusnya mengajarkan kita?

Yesus berkata bahawa barangsiapa diberi banyak, juga dituntut banyak daripadanya. Dan Yesus meneladani gaya hidup yang rendah hati dan berkorban. Dia berkata bahawa barangsiapa yang mahu menjadi pemimpin, maka mereka adalah orang yang harus melayani orang lain: dengan memakai pengetahuan dan kuasa, melayani mereka yang tidak punya pengetahuan dan kuasa. Jadi pengetahuan digunakan dalam pelayanan untuk orang lain khususnya buat mereka yang miskin dan memerlukan. Jadi sekarang semua professional Kristian mulailah berfikir bagaimana saya dapat menggunakan kerjaya ini bukan untuk memperkayakan diri dan hidup semakin mewah tetapi bagaimana saya dapat memakai kerjaya saya untuk melayani orang yang berkekurangan dan miskin. Tidak bererti bahawa setiap kita harus bekerja diantara orang miskin tetapi apapun kerjaya dan kedudukan kita dalam pekerjaan dan dimanapun kita terlibat; kita harus belajar melihat dari tempat pekerjaan kita, kepada orang-orang miskin. Bagaimana kita sebagai pengacara, doktor, peniaga dll jangan makin memperkaya diri sendiri tetapi seharusnya melayani orang miskin dan berjuang merapatkan jurang antara yang kaya dan yang miskin.

Perspektif penebusan terakhir mengatakan kepada kita bahawa ketika Kristus datang kembali, pada saat itulah kita akan memperoleh pengetahuan yang sempurna: pengetahuan yang akan digunakan untuk melayani sesama. Dengan terang ini maka semua yang kita ketahui sekarang ini hanyalah separa. Kita tidak melihat seluruh pengetahuan bahkan di dalam pelajaran mata kuliah kita, sangatlah terbatas dan sedikit. Besok semua teori yang kita miliki, mungkin menjadi ketinggalan zaman atau salah. Kerana itulah kita harus rendah hati, sebab kita belum mencapai garis akhir. Adalah baik bagi setiap orang Kristian diingatkan akan hal ini, bahawa kita tidak dapat mengerti semua kebenaran Allah. Seperti Paulus menyatakan dalam 1Kor 13 sekarang kita melihat dalam samar-samar tetapi nanti ketika Tuhan datang pada kali kedua kita akan melihat-Nya secara bersemuka . Jadi orang Kristian harus rendah hati untuk berkata: “saya tidak tahu.” Kita tidak perlu merasakan bahawa kita tahu semua jawapan. Bahkan ketika teman bukan Kristian bertanya banyak hal tentang Allah dan Yesus, mungkin kita dapat katakan saya tidak tahu, saya masih belajar, apa yang kita ketahui itulah yang saya kongsikan. Kerana sehinggalah kebenaran yang sejati dan sempurna belum tiba, sehingga itulah kita memerlukan satu sama lain – tidak ada peribadi atau kampus atau gereja atau lembaga atau bangsa telah memiliki segala kebenaran.

Penutup:
Apa yang disampaikan disini masih sangat sedikit. Setiap hari kita boleh menemui orang yang memiliki ‘dunia’ yang sangat berbeda dengan yang kita miliki, kerana ‘worldview’ yang sangat berbeza satu orang dengan orang lain. Kerana itu kita perlu mengambil kesempatan belajar lebih lanjut, mengenal berbagai worldview yang sedang atau pernah popular seperti: Naturalisme, Deisme, Eksistensialisme, Panteistik Monisme, New Age Movement, hingga Post-modernisme. Kita perlu menyelami worldview yang dimiliki oleh orang lain, untuk memahami orang lain khususnya agar dapat memberitakan Injil dalam bahasa yang dapat dihayati oleh mereka.



Bibliografi:

Seminar Christian Worldview, Vinoth Ramachandra, di Jakarta 2003.

The Transforming Vision: Shaping a Christian Worldview, Brian J. Walsh dan J. Richard , Middleton, Reformed Institute Press, 2001.

Worldviews In Conflic, Ronald H. Nash, Penerbit Momentum, 2000.

Building A Christian Worldview, W. Andrew Hoffecker (editor), Penerbit Momentum, 2006.

Rekomendasi Bacaan:

The Christian Mind, Harry Blaimers, Penerbit Momentum, 2004.

The Universe Next Door:

Edit By : Marudut sihombing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: