Sebuah Kisah Kasih 1000 Pangsit


Sebuah keluarga dari China selatan, keluarga miskin dengan 7 orang anak. Mereka sering mengalami kekurangan makanan. Tetapi malam sebelum Imlek adalah saat yang sangat dinantikan oleh anak-anak. Karena ibunda selalu berupaya untuk membuat pangsit (dumpling) untuk keluarga. Keesokan harinya, Imlek, pangsit menjadi makanan mewah keluarga tsb. Hari kedua, ibunda akan meminta kita untuk memberikan pangsit yang masih ada kepada para tetangga. Ibunda berkata ”mereka adalah orang-orang miskin yang gak bisa makan pangsit”. Biasanya Jasmine bertanya: ”ibu, berapa banyak pangsit yang kamu buat? Apakah cukup untuk dibagikan?” Ibunda selalu menjawab: ”1000 pangsit”. Setelah itu anak-anak pergi membagikan kepada para tetangga. Ibunda selalu berupaya membuat 1000 pangsit tiap tahun untuk dibagikan kepada tetangga yang juga miskin. Tahun 1980, ketika harga daging makin mahal, ibunda tetap membuatnya. Tentu daging dalam pangsit semakin sedikit. Tetapi 1000 pangsit untuk para tetangga tetap dibagikan.

Ketika anak-anak beranjak dewasa dan mengadu nasib di negeri orang, mereka sering menghubungi ibundanya serta bertanya ”berapa banyak pangsit yang ibu buat tahun ini?”. Ibunda selalu menjawab: ”1000 pangsit”. Tahun demi tahun berlalu. Pendengaran ibunda semakin tidak bagus. Salah satu anak yang tinggal di Singapura, namanya Jasmine tetap menelpon. Ibunda mengatakan: ’sudah tidak bisa buat 1000 pangsit karena terlalu tua. Apakah kamu bisa makan pangsit di Singapura?’

Ketika Jasmine menjawab ’ya’. Ibunda begitu lega sekali. Suaranya begitu tergetar ketika ingin menutup telepon.

Suatu hari kakak perempuan Jasmine memberitahu bahwa Ibunda menangis dengan begitu hebat setelah dia menutup telepon. Tiba-tiba Jasmine sadar bahwa selama ini Ibunda mencoba mengajarkan apa arti hospitality melalui hidupnya. Ibunda mengajarkan apa arti mengasihi tetangga (sesama) meskipun keluarga kami berkekurangan juga melalui ’1000 pangsit’. Saat ini, ketika ibunda sudah begitu tua, dia pasti merasakan bahagia bahwa ’legacy of generosity’ yang dia ajarkan sudah diterapkan. Ibunda melihat masa depan bagi anak-anaknya, di mana mereka akan pergi dan membagikan apa yang mereka miliki. Ibunda rindu mengajarkan bahwa kebahagiaan hanya diperoleh ketika sesuatu barang/sesuatu tindakan diberikan kepada orang lain.

Sungguh merupakan kisah kasih yang konkrit. Sebagai orang percaya, sentuhan kasih seperti apa yang anda tinggalkan bagi keluarga? kolega kantor? teman kampus? pembantu rumah tangga? Sentuhan kasih: memberi, sabar, pengampunan; akan menjadi kisah tindakan kasih tak terlupakan dalam hidup kita dan orang lain. Terlebih penting kisah tindakan kasih, apapun bentuknya adalah tindakan yang berdampak kekal.

Tunjukan tindakan kasih dengan gigih dan konsisten meskipun anda sendiri punya masalah. Karena kasih itu memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: