Archive for September, 2010

Ibarat Kentang Perihal Pengampunan


Seorang guru membawa sekeranjang kentang ke dalam kelas. Setiap anak diminta untuk mengambil kentang. Masing-masing satu kentang untuk setiap orang yang pernah membuat mereka sakit hati. “Bawalah kentang ini kemanapun kalian pergi; ke sekolah, ke gereja, mandi,tidur. Pokoknya jangan dilepas. Sampai minggu depan,” perintah sang guru.

Para murid melakukannya. Seminggu kemudia mereka kembali ke kelas. Sang guru bertanya, “bagaimana perasaan kalian dengan kentang itu?”. Para murid komplain. Ada yang bilang tidak enak. Bikin repot. Kentangnya jadi busuk dan berbau tidak sedap. Pokoknya semua murid sangat terganggu dengan kehadiran kentang itu. Gurunya berkata, “begitulah juga kalau kita terus memendam rasa sakit hati. Kita sendiri yang tidak enak. Seperti membawa kentang-kentang itu”.

Pernah dibuat kesal sama seseorang? Pernah merasakan sakit hati? Dikecewakan? Kebencian? Amarah yang sampai ke ubun-ubun? Pada saat seperti itu, kata maaf seolah lenyap dari kamus hidup kita. Tiada maaf bagimu. Seperti diungkap oleh grup musik Chicago: “It’s hard to say I’m sorry”. Tidak jarang yang terlintas malah keinginan untuk balas dendam. Bahkan kerap menggunakan istilah yang rohani: “biar Tuhan yang membalas semua perbuatan jahatnya”. Tuhan malah diajak “berkolusi” dalam dendam.

Kekecewaan, kesedihan, kebencian, amarah, dan sakit hati adalah rasa yang paling mengobrak-abrik jiwa. Ada sebuah ungkapan bernada canda dalam sebuah lagu: lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati. Sakit fisik seolah lebih mudah dihadapi daripada sakit batin. Konon orang lebih gampang kurus kalau makan hati.

Dalam doa Bapa Kami, ada bagian “dan ampunilah kami atas segala kesalahan kami, seperti kamu juga telah mengampuni yang bersalah kepada kami”. Mungkin saking terbiasanya orang mengucapkan doa Bapa Kami, termasuk bagian ini. Sehingga kurang terhayati. Terucap tanpa tekad untuk melaksanakan.

Tapi ada juga yang rada “sadar diri”. Karena masih punya dendam dengan sesama, masih tidak bisa memaafkan saudara, kolega, atau sahabatnya, maka ketika diajak mengucapkan doa Bapa Kami, dan sampai pada bagian tersebut, ia memilih tidak menyebutkannya. Biar tidak merasa berdosa kepada Tuhan.

Padahal megampuni adalah panggilan kita orang percaya. Mengapa? Karena Tuhan sudah lebih dulu mengampuni. Dengan kata lain, kalau saat ini kita tidak dapat mengampuni orang lain, maka pastikan dulu diri kita adalah orang yang sama sekali tidak pernah berbuat dosa.

KITA TIDAK BERJALAN SENDIRIAN


“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menangung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” (Yesaya 46:4)

Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka. Jika seorang anak laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk didewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan dibawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup.

Anak laki-laki tersebut dibawa jauh menuju hutan yang paling dalam. Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan dibuka, dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku tersebut jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu.

Malam begitu pekat, bahkan sang anak itu tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri, begitu gelap sehingga ia begitu ketakutan. Hutan tersebut mengeluarkan suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala, bunyi dahan bergemerisik, dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia tidak boleh berteriak atau menangis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut.

Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur deras dari tubuhnya.

Cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia melihat sekelilingnya, dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, dengan posisi siap menembakan anak panah, dengan golok terselip dipinggang, menjagai anaknya sepanjang malam, jikalau ada ular atau binatang buas lainnya, maka ia dengan segera akan melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu mendekati anaknya sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.

Dalam mengarungi kehidupan ini, sepertinya Tuhan “begitu kejam” melepaskan anak-anak-Nya kedalam dunia yang jahat ini. Terkadang kita tidak dapat melihat penyertaan-Nya. Namun satu hal yang pasti Tuhan setia, Tuhan mengasihi kita, dan Tuhan selalu berjaga-jaga bagi kita.

Seperti Tuhan telah menyertai kita disepanjang tahun 2010 ini Dia juga tentunya akan menyertai kita sepanjang tahun2 yang akan datang. Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi satu hal yang pasti: Kita tidak pernah berjalan sendiri. Tuhan beserta kita.

Kemiskinan Dunia


Saat ini kemiskinan adalah sebuah isu global yang terus diperangi.  Dari sudut pandang antropologis, kemiskinan merupakan salah satu penyebab komunitas menjadi rusak.  Karena mereka tidak bisa dapat pendidikan yang boleh membantu mengubah cara berpikir. Mereka tidak dapat gizi yang cukup sehingga angka kematian bayi makin tinggi dan komunitas yang tinggal adalah angkatan tua yang juga sudah kepayahan. Bila kita mencoba merenungkan isu ini, pasti kita akan menemukan beberapa alasan dan dampak lainnya akibat kemiskinan.

Apakah Tuhan Yesus Kristus peduli akan orang-orang miskin? Jawabannya Ya, Pasti! Karena Tuhan Yesus banyak hidup dengan orang-orang kalangan bawah. Bahkan dalam Matius 25:31-46, Yesus menyatakan bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap orang yang paling hina.

Apakah Tuhan Yesus datang ke dunia untuk memberantas kemiskinan materi? Bukan itu tujuan terutama Tuhan Yesus, karena fokusnya adalah untuk memperkaya orang yang miskin secara rohani.  Manusia yang rusak secara rohani adalah isu kekal yang dihadapi dari jaman ke jaman.

Perkataan Tuhan di Matius 5, ‘Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan surga’ merupakan sebuah perkataan yang melawan arus. Kita perlu ingat bahwa para pengikut Yesus yang mendengarkan khotbah di bukit kebanyakan bukanlah orang kaya. Mereka adalah rakyat biasa. Fokus yang Tuhan Yesus mau sampaikan adalah kalau kita menempatkan diri sebagai yang tak berdaya untuk memperbaiki kemiskinan jiwa ini dan membuka diri agar Yesus bekerja dalam hidup, maka kita memiliki kerajaan surga dengan segala anugrahnya.  Sayangnya banyak orang yang miskin secara rohani, tetapi merasa kaya dalam pengetahuan dan logika sehingga mereka tidak mau merendah di hadapan Tuhan Allah. Memiliki kerajaan surga adalah kekayaan terpenting yang bisa membuat kita berbahagia.  Kebahagiaan ini bukanlah semu.

Kebahagiaan ini akan menjadi milik kita selamanya, bila kita menempatkan diri rendah dihadapan Tuhan Allah.  Kebergantungan kita secara total kepada Tuhan akan menolong kita menjalani hidup yang semakin kaya secara spiritual hari demi hari.  Mari kita bawa kebahagiaan ini juga kepada mereka yang membutuhkan, karena Tuhan Yesus peduli pada orang-orang yang miskin secara materi.  Kita tidak bisa mengisolasi kebahagiaan ini hanya menjadi milik kita tanpa membagi kelebihan kita kepada mereka yang berkekurangan.Mari rekan-rekan,berbagilah bagi mereka kita tidak sendiri,bagi rekan2 yang yang mau membagi sesuatu bagi mereka,melaui marudutsihombing’blog,saya akan menunjukanya,dan mengarahkannya,..selamat melayani,Tuhan Yesus Memberkati,Amin.

Dipuaskan, Disegarkan dan Dikuatkan !!!


Dalam salah satu buku kumpulan Illustrasi Kristen yang disusun oleh Pdt Ishak Sugianto, tercatat ada sebuah kisah nyata menarik yang berkaitan tentang “Manfaat Khotbah”. Kisahnya adalah sebagai berikut: Pada suatu hari seorang pembaca British Weekly yang terbit di London menulis sebuah surat terbuka, yang isinya jelas ditujukan untuk menyerang para pendeta. Isi surat itu adalah sebagai berikut:“Para pendeta yang terhormat, rupa-rupanya anda merasa bahwa berkhotbah merupakan hal yang sangat penting, sehingga anda menghabiskan waktu yang banyak sekali untuk mempersiapkan khotbah-khotbah tersebut. Saya sendiri adalah pengunjung gereja selama kurang lebih 30 tahun, meskipun harus saya akui kadang-kadang saya tidak terlalu setia, dan barangkali saya sudah mendengar lebih dari 3000 khotbah dalam jangka waktu yang panjang itu. Lalu saya mencoba untuk mengingat-ingat khotbah yang pernah saya dengar, tetapi nyatanya, tidak sebuah khotbah pun yang dapat saya ingat. Oleh karena itu saya benar-benar sangsi apakah khotbah itu memang betul-betul dibutuhkan masyarakat? Bukankah waktu yang demikian banyak terbuang untuk mempersiapkan khotbah itu lebih baik dipergunakan untuk melaksanakan hal-hal lain yang lebih bermanfaat?”

Ternyata surat terbuka itu mengundang banyak sekali reaksi pro dan kontra yang juga dimuat dalam majalah British Weekly tersebut. Akhirnya persoalan ini diakhiri dengan munculnya sebuah surat terbuka yang isinya sebagai berikut: “Tuan yang terhormat, saya telah menikah selama 30 tahun lamanya. Dan dalam jangka waktu yang demikian lama, saya sudah makan 32.850 kali (3 kali sehari), tiba-tiba saya menjumpai bahwa saya tidak dapat ingat lagi sebuah menu yang telah dimasak istri saya itu. Tetapi saya tidak menjadi bingung oleh karena hal itu, sebab nyatanya saya menerima kesegaran fisik dari makanan itu, dan selama 30 tahun lamanya saya merasakan kekuatan tubuh yang baik untuk bekerja tiap-tiap hari. Tanpa masakan istri saya itu, tentu saya sudah lama kelaparan.”

Tentunya kita juga tidak dapat mengingat tiap-tiap khotbah yang pernah kita dengarkan di kebaktian-kebaktian yang pernah kita ikuti. Tetapi hal itu bukan berarti khotbah-khotbah tersebut tidak berguna. Justru sebaliknya, tiap khotbah itu membawa kesegaran rohani yang baru, sebab Firman Tuhan yang diberitakan itu adalah “roti hidup” yang mengenyangkan rohani kita serta memperkokoh iman kita. Kita membutuhkan “roti hidup” itu setiap saat dan setiap waktu, bukan borongan sebulan sekali atau setahun sekali. Oleh karena itulah, adalah disebut berbahagia bagi orang yang senantiasa [setiap saat setiap waktu] haus dan lapar akan kebenaran Firman Tuhan, sebab mereka akan dipuaskan (Mat 5:6). Dan tidak hanya dipuaskan, mereka juga akan dikuatkan. Dikuatkan untuk menghadapi peperangan rohani dan tipu muslihat si Jahat (Ef 6:10-20).

Sebagaimana Yesus mengunakan Firman Tuhan sebagai  ‘senjata’ menghadapi pencobaan dari si Jahat (Mat 4:1-11), lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memiliki sikap haus dan lapar (senantiasa butuh) akan Kebenaran? Apakah hidup rohani kita selalu disegarkan dan dikuatkan oleh Firman Tuhan setiap harinya? Rindukah kita mengalami hidup rohani lebih berkemenangan lagi di tahun yang baru ini?

Hati-Hati Menjaga Hati


Bayangkan sebuah rumah. Rumah semegah dan semewah apa pun, akan tidak sehat dan nyaman apabila kotor. Penuh debu dan sampah dimana-mana. Sebaliknya rumah yang sederhana, tapi resik dan bersih, terawat baik, akan membuat penghuninya sehat dan merasa nyaman.

Begitu juga dengan hidup kita. Umpama hati kita itu sebuah rumah. Hidup kita walau sederhana, akan sehat dan nyaman kalau hati kita “bersih” dari segala kotoran; pikiran buruk, niat buruk, akar pahit, dendam kesumat, kekecewaan yang dipelihara. Sebaliknya hidup walau bergelimang materi dan kemewahan, tapi kalau hati kita dipenuhi berbagai kebusukan, hidup kita pun tidak akan terasa nyaman. Dan tidak sehat pula.

Maka memang menjaga hati itu penting. Sebab bagaimana pun hati akan mempengaruhi pikiran. Dan pikiran kita tidak bisa tidak akan mempengaruhi tindakan dan sikap kita. Tindakan dan sikap kita pada akhirnya akan menentukan hidup kita selanjutnya; positif atau negatif, produktif atau konraproduktif.

Contoh: kalau hati kita gembira, bebas dari segala pikiran buruk dan dendam terhadap yang lain, pikiran kita juga cerah. Kita akan melihat hidup kita dengan penuh syukur. Sikap dan tindakan kita pun akan menjadi positif dan produktif. Realsi denganaborang-orang di sekitar pun akan baik-baik saja. (Bandingkan Amsal 17:22, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Ini juga yang dikatakan dalam Amsal 4:23. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Menjaga hati dari apa? Dari segala sampah kehidupan; pikiran buruk, niat buruk, akar pahit, dendam kesumat. Hal-hal yang pada akhirnya akan merampas sukacita dan damai sejahtera kita.

Bagaimana cara kita menjaga hati? Pertama dan terutama, doa. Berdoalah untuk kebersihan hati kita. Mohon Tuhan mengambil “sampah-sampah” dalam hati kita. Kedua evaluasi diri, sisihkan setiap hari saat khusus untuk mengevaluasi; bisa sendirian bisa bersama keluarga. Apa-apa yang selama sehari yang lalu kita lakukan yang salah; kata dan sikap mana yang telah menyakitkan hati orang lain. Evaluasi diri membuat kita bisa mengerti mana yang perlu diperbaiki dari sikap dan sifat kita, mana yang perlu ditingkatkan. Hanya orang yang mau mengevaluasi diri yang akan mengalami pertmbuhan rohani.

Sebuah Kisah Kasih 1000 Pangsit


Sebuah keluarga dari China selatan, keluarga miskin dengan 7 orang anak. Mereka sering mengalami kekurangan makanan. Tetapi malam sebelum Imlek adalah saat yang sangat dinantikan oleh anak-anak. Karena ibunda selalu berupaya untuk membuat pangsit (dumpling) untuk keluarga. Keesokan harinya, Imlek, pangsit menjadi makanan mewah keluarga tsb. Hari kedua, ibunda akan meminta kita untuk memberikan pangsit yang masih ada kepada para tetangga. Ibunda berkata ”mereka adalah orang-orang miskin yang gak bisa makan pangsit”. Biasanya Jasmine bertanya: ”ibu, berapa banyak pangsit yang kamu buat? Apakah cukup untuk dibagikan?” Ibunda selalu menjawab: ”1000 pangsit”. Setelah itu anak-anak pergi membagikan kepada para tetangga. Ibunda selalu berupaya membuat 1000 pangsit tiap tahun untuk dibagikan kepada tetangga yang juga miskin. Tahun 1980, ketika harga daging makin mahal, ibunda tetap membuatnya. Tentu daging dalam pangsit semakin sedikit. Tetapi 1000 pangsit untuk para tetangga tetap dibagikan.

Ketika anak-anak beranjak dewasa dan mengadu nasib di negeri orang, mereka sering menghubungi ibundanya serta bertanya ”berapa banyak pangsit yang ibu buat tahun ini?”. Ibunda selalu menjawab: ”1000 pangsit”. Tahun demi tahun berlalu. Pendengaran ibunda semakin tidak bagus. Salah satu anak yang tinggal di Singapura, namanya Jasmine tetap menelpon. Ibunda mengatakan: ’sudah tidak bisa buat 1000 pangsit karena terlalu tua. Apakah kamu bisa makan pangsit di Singapura?’

Ketika Jasmine menjawab ’ya’. Ibunda begitu lega sekali. Suaranya begitu tergetar ketika ingin menutup telepon.

Suatu hari kakak perempuan Jasmine memberitahu bahwa Ibunda menangis dengan begitu hebat setelah dia menutup telepon. Tiba-tiba Jasmine sadar bahwa selama ini Ibunda mencoba mengajarkan apa arti hospitality melalui hidupnya. Ibunda mengajarkan apa arti mengasihi tetangga (sesama) meskipun keluarga kami berkekurangan juga melalui ’1000 pangsit’. Saat ini, ketika ibunda sudah begitu tua, dia pasti merasakan bahagia bahwa ’legacy of generosity’ yang dia ajarkan sudah diterapkan. Ibunda melihat masa depan bagi anak-anaknya, di mana mereka akan pergi dan membagikan apa yang mereka miliki. Ibunda rindu mengajarkan bahwa kebahagiaan hanya diperoleh ketika sesuatu barang/sesuatu tindakan diberikan kepada orang lain.

Sungguh merupakan kisah kasih yang konkrit. Sebagai orang percaya, sentuhan kasih seperti apa yang anda tinggalkan bagi keluarga? kolega kantor? teman kampus? pembantu rumah tangga? Sentuhan kasih: memberi, sabar, pengampunan; akan menjadi kisah tindakan kasih tak terlupakan dalam hidup kita dan orang lain. Terlebih penting kisah tindakan kasih, apapun bentuknya adalah tindakan yang berdampak kekal.

Tunjukan tindakan kasih dengan gigih dan konsisten meskipun anda sendiri punya masalah. Karena kasih itu memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat.

Rela memberi dengan sikap hati yang benar


Kemurahan hati adalah sebuah karakter yang agung dan mulia, dimana Yesus pun memasukkannya menjadi salah satu karakteristik nilai (value) dalam norma kehidupan kerajaan Allah (Mat 5:7). Apa sebenarnya hakikat dari sikap murah hati yang dimaksudkan oleh Yesus disini?

Seringkali dalam pembicaraan pada umumnya, orang yang murah hati adalah orang yang suka memberi (dermawan). Ini tidak 100% salah. Tetapi, kita perlu teliti lebih jauh lagi, bagaimana sikap hati dari pemberi itu sendiri. Memberi sumbangan dana dan sembako dalam jumlah yang besar tidaklah menjamin bahwa si penyumbang adalah orang yang murah hati seperti yang Tuhan Yesus maksudkan dalam Mat 5:7. Sikap murah hati tentunya bukan hanya sekedar kerelaan menyumbang, tapi yang lebih penting adalah apa yang menjadi dasar kerelaan itu dilakukan.

Sebagai orang Kristen, tentu motivasi utama kita dalam memberi adalah bukan agar satu saat kita pun akan diberi. Tetapi, sebaliknya: oleh karena kita sudah diberi banyak oleh Tuhan maka kita pun rindu membagikan kemurahan Tuhan itu kepada orang yang membutuhkan.

Ingat, jangan sampai dibalik, yaitu agar kita diberi banyak oleh Tuhan, maka kita harus banyak memberi. Ini tidak benar, ini adalah sikap manipulatif yang tidak memperkenan hati Tuhan. Ini bukan sikap murah hati yang sejati.

Adakalanya, dalam hal memberi pun, kita kurang memberikan yang terbaik. Ada banyak pemberian kepada korban bencana alam adalah pemberian yang sudah tidak layak pakai. Nah, seyogyanya, hal ini jangan sampai terjadi pada diri orang Kristen. Jika kita mau memberi, marilah kita memberi yang terbaik dan bukan dengan motivasi ‘cuci gudang’ (hanya karena ada banyak barang tak terpakai di gudang yang perlu dibuang).

Ingat, di mata Tuhan, sikap hati dalam memberi jauh lebih penting daripada besarnya pemberian itu sendiri. Marilah kita rela memberi dengan sikap hati yang benar dan dijamin 100% Tuhan pasti senang.