Air Susu Dibalas Air Tuba


Itu pepatah lama. Susu lambang cinta dan segala kebaikan. Tuba lambang benci dan segala keburukan. Sayang dibalas benci. Kebaikan dibalas keburukan.

Pernahkah Anda mengalami situasi seperti itu?

Ketika sayang Anda dibalas benci. Kebaikan yang Anda tabur justru berbuahkan keburukan.

Tentu Anda kecewa.

Dan wajar Anda sakit hati.

Tapi mari kita introspeksi diri. Kita lihat ke dalam diri. Tidakkah hal serupa kerap kita lakukan juga kepada Tuhan?

Tuhan berikan kepada kita kebaikan, yang kita lakukan justru segala hal yang mendukakan-Nya.

Tuhan anugerahkan kepada kita kasih sejati tak bersyarat, yang kita lakukan justru “perselingkuhan” dengan dunia; mulai dari akrab dengan “dukun”, sampai kompromi dengan prinsip dan standar dunia.

Tuhan membuka diri, kita menutup hati.

Bedanya dalam situasi demikian. Kita enggan berbuat baik lagi. Kita berhenti menabur rasa sayang.

Tuhan tidak. Kasih-Nya tidak berubah. Kebaikan-Nya selalu tercurah.

Tuhan tidak pernah enggan. Dia tidak pernah berhenti menyayangi kita.

Kita renungkan makna cerita ini. Ini hanya sebuah cerita:

“Ada seorang yang sangat kaya mengadakan perjamuan besar. Ia mengundang banyak orang penting. Para tamu tiba dengan kereta kuda yang khusus. Hujan turun dengan deras. Membentuk kubangan lumpur di mana-mana. Juga di jalan depan pintu masuk utama ke dalam rumah. Sebuah kereta kuda berhenti di tengah kubangan lumpur itu. Seorang pria tua berpakaian sederhana turun. Tapi tergelincir di tangga kereta dan tercebur ke dalam kubangan lumpur. Ia pun bermandikan lumpur. Ia merasa tidak lagi pantas ikut perjamuan.

Para tamu menertawakan pria malang itu. Seorang pelayan bergegas menemui tuannya dan melaporkan kejadian itu. Sang Tuan segera keluar menemui tamu yang malang itu. Tetap menyambutnya dengan ramah dan mempersilahkan pria itu masuk ke dalam ruang perjamuan. Tapi pria itu begitu takut dengan tatapan mata dan “bisik-bisik” tamu lain. Ia pun berniat pergi. Tidak diduga Sang Tuan yang berpakaian indah itu membenamkan diri ke dalam kubangan lumpur yang sama. Lalu ia menggandeng pria itu. Mereka berdua dalam keadaan penuh lumpur beriringan masuk ke ruang perjamuan. Dan tidak ada seorangpun yang berani berkata-kata.”

Tidakkah Tuhan juga begitu menyayangi kita? Betapa pun kita ini kotor.

Apakah balasan kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: