Archive for Agustus, 2010

Mengenali 5 tanda-tanda pembeli dalam prospek


Ada beberapa tanda pembelian yang ditunjukkan prospek untuk memberitahu Anda bahwa ia berada di ambang pengembilankeputusan. Tenanglah dan sadari manakala tanda-tanda itu muncul. Tanda2 yang berikut ini menunjukkan bahwa tiba saat untuk mengajukan pertanyaan penutup.

1. Bicaranya jadi lebih cepat

Seringkali, prospek akan mulai berbicara lebih cepat. Ia mungkin lebih ceria dan menjadi lebih positif dan gembira. Di dalam benaknya, ia telah membuat keputusan, dan ketegangan di dalam dirinya telah hilang. Kapan pun customer berubah dari bermenung atau kritis menjadi positif dan gembira, Anda dapat berterus terang dan mengajukan pertanyaan penutup.

2. Mendadak jadi Lebih Ramah

Customer terlibat dalam ‘keramahtamahan mendadak’. Ia tampak lebih santai, berubah haluan, dan mungkin mengajukan pertanyaan yang bersifat pribadi atau ramah. “Sudah berapa lama Anda tinggal di sini?” “Apakah anak Anda sudah sekolah?” “Apakah Anda mau secangkir kopi lagi?”

Jika Anda mengalami keramahtamahan mendadak ini, Anda harus menanggapi dengan hangat dan positif, dan kemudian mengajukan pertanyaan penutup. “Terima kasih. Boleh juga saya minta secangkir kopi lagi. Dan omong-omong, seberapa cepat Anda memerlukan barang ini?”

Mengenali Tanda-Tanda Pembelian

3. Mengusap-usap dagu

Mengusap-usap dagu adalah tanda lain yang menunjukkan bahwa customer mengarah pada keputusan membeli. Bilamana prospek mulai berpikir secara mendalam, tangannya akan melayang ke dagu dan kepalanya menunduk. Jika Anda berbicara dengan prospek, dan ia mulai mengusap-usap dagunya serta berpikir, segeralah berhenti berbicara. Customer telah memulai perjuangan batin dan tidak lagi mendengarkan Anda. Ia sedang berpikir dalam tentang cara membeli produk Anda, di mana ia akan meletakkannya, dan seterusnya. Saat tangannya turun dari dagu, kepalanya menengadah, dan Anda menatap matanya. Dalam 99% kejadian, kepastian membeli telah diputuskan.
Saat itu, tersenyumlah dan ajukan pertanyaan penutup semisal, “Kapan Anda memerlukannya?” Kemudian, duduk diam lah sampai Anda mendapatkan tanggapan.

4. Bertanya tentang harga, ketentuan, atau pengiriman

Tanda membeli yang paling umum adalah jika prospek mengajukan pertanyaan tentang harga, ketentuan, atau pengiriman.

“Berapa harga pastinya?”
“Ketentuan apa saja yang harus dipenuhi dalam pembelian ini?”
“Berapa lama lagi saya akan memperoleh barang ini jika saya memutuskan membeli?”

Jika prospek mengajukan pertanyaan yang terkait dengan tiga hal di atas, ubahlah pertanyaan penutup dengan mengajukan salah satu dari ketiga pokok yang belum ditanyakan oleh klien.

Contohnya, prospek bertanya, “Berapa harganya?”
Anda menjawab, “Kapan Anda membutuhkannya?”
Jika prospek menjawab, “Akhir bulan ini,” artinya Anda baru saja memenangkan pembelian.

Ingat bahwa orang yang mengajukan pertanyaan memegang kendali. Inilah kuncinya. Selalu coba untuk menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Ini memungkinkan Anda memperoleh lebih banyak informasi dan seringkali membukukan penjualan. Namun, yang lebih penting, hal ini membuat Anda mampu memegang kendali percakapan penjualan.

Prospek: “Seberapa cepat saya akan mendapatkannya?”
Anda: “Berapa banyak yang Anda inginkan?”

Jika prospek memberi Anda jumlah tertentu, Anda baru saja membukukan penjualan.

5. Ada perubahan sikap, gerak-gerik, atau suara

Setiap perubahan sikap, gerak-gerik, atau suara dapat menunjukkan bahwa keputusan membeli telah dekat. Jika prospek duduk tegak atau mulai menghitung angka-angka, Anda dapat mengujinya untuk memastikan bahwa ini adalah tanda pembelian dengan bertanya:

“Omong-omong, seberapa cepat Anda membutuhkannya?”
“Apakah Anda ingin kita memulainya segera?”
“Berapa banyak yang Anda inginkan?”
“Apakah Anda ingin kami mengirim barang ini ke kantor atau ke gudang?”

Kapan pun Anda melihat prospek mengubah sikap atau bahasa tubuh dalam bentuk, misalnya, menggeser kursinya, menjadil ebih ceria, atau menjadi lebih ramah, anggaplah keputusan telah dibuat dan ajukan pertanyaan untuk memastikannya.

Air Susu Dibalas Air Tuba


Itu pepatah lama. Susu lambang cinta dan segala kebaikan. Tuba lambang benci dan segala keburukan. Sayang dibalas benci. Kebaikan dibalas keburukan.

Pernahkah Anda mengalami situasi seperti itu?

Ketika sayang Anda dibalas benci. Kebaikan yang Anda tabur justru berbuahkan keburukan.

Tentu Anda kecewa.

Dan wajar Anda sakit hati.

Tapi mari kita introspeksi diri. Kita lihat ke dalam diri. Tidakkah hal serupa kerap kita lakukan juga kepada Tuhan?

Tuhan berikan kepada kita kebaikan, yang kita lakukan justru segala hal yang mendukakan-Nya.

Tuhan anugerahkan kepada kita kasih sejati tak bersyarat, yang kita lakukan justru “perselingkuhan” dengan dunia; mulai dari akrab dengan “dukun”, sampai kompromi dengan prinsip dan standar dunia.

Tuhan membuka diri, kita menutup hati.

Bedanya dalam situasi demikian. Kita enggan berbuat baik lagi. Kita berhenti menabur rasa sayang.

Tuhan tidak. Kasih-Nya tidak berubah. Kebaikan-Nya selalu tercurah.

Tuhan tidak pernah enggan. Dia tidak pernah berhenti menyayangi kita.

Kita renungkan makna cerita ini. Ini hanya sebuah cerita:

“Ada seorang yang sangat kaya mengadakan perjamuan besar. Ia mengundang banyak orang penting. Para tamu tiba dengan kereta kuda yang khusus. Hujan turun dengan deras. Membentuk kubangan lumpur di mana-mana. Juga di jalan depan pintu masuk utama ke dalam rumah. Sebuah kereta kuda berhenti di tengah kubangan lumpur itu. Seorang pria tua berpakaian sederhana turun. Tapi tergelincir di tangga kereta dan tercebur ke dalam kubangan lumpur. Ia pun bermandikan lumpur. Ia merasa tidak lagi pantas ikut perjamuan.

Para tamu menertawakan pria malang itu. Seorang pelayan bergegas menemui tuannya dan melaporkan kejadian itu. Sang Tuan segera keluar menemui tamu yang malang itu. Tetap menyambutnya dengan ramah dan mempersilahkan pria itu masuk ke dalam ruang perjamuan. Tapi pria itu begitu takut dengan tatapan mata dan “bisik-bisik” tamu lain. Ia pun berniat pergi. Tidak diduga Sang Tuan yang berpakaian indah itu membenamkan diri ke dalam kubangan lumpur yang sama. Lalu ia menggandeng pria itu. Mereka berdua dalam keadaan penuh lumpur beriringan masuk ke ruang perjamuan. Dan tidak ada seorangpun yang berani berkata-kata.”

Tidakkah Tuhan juga begitu menyayangi kita? Betapa pun kita ini kotor.

Apakah balasan kita?

Mencapai Garis Kemenangan


Salah satu perlombaan yang cukup unik di Singapura dan negara asia lainnya adalah perlombaan “dragon boat”.  Kelompok terdiri dari beberapa pendayung, seorang penabuh genderang dan pengemudi di ekor perahu.  Sepanjang lomba, meningkat atau menurunnya semangat para pendayung terletak pada koordinatornya, si penabuh. Jadi semua orang akan fokus dan percaya total pada arahannya.  Kemenangan pasti diperoleh oleh kelompok yang mendayung dengan satu hati (harmonis), konsentrasi/fokus untuk ikuti aba-aba dari si penabuh genderang dan dengan sekuat tenaga mendayung. Tentu orang yang pegang kemudi di belakang juga mengikuti arahan sang penabuh.

Intinya adalah pandangan dan tenaga para pendayung tidak lepas dari titik orientasi di depan.  Kemenangan sudah ditangan ketika semua fokus kepada sang penabuh.

Dalam kehidupan kristiani, kalau fokus kita terlepas dari Yesus Kristus sebagai kepala dan pengarah, sulit bagi kita untuk sampai garis kemenangan perlombaan iman. Dalam peringatan Paskah ini, kemenangan diawali dengan salib (penderitaan).  Tanpa memusatkan pandangannya kepada Bapa dan kehendakNya, Yesus sebagai manusia akan sangat kesulitan memenuhi ketaatan.  Ketaatan pada arahan membawa pada kemenangan. Itulah momen kebangkitan. Demi ketaatanNya pada Allah Bapa, Yesus menyerahkan hidupnya dengan kerelaan. Untuk itulah, dia kembali memperoleh kehidupan dengan tubuh yang baru sebagai bukti bagi mereka yang percaya pada Yesus juga akan memperoleh tubuh kebangkitan yang mulia. Itulah kemenangan paskah.

Murid-murid juga memfokuskan pandangannya pada Yesus, Tuhan dan Allah mereka (menurut perkataan Tomas). Untuk itulah, mereka memperoleh kemenangan yaitu hidup kekal yang dijanjikan oleh Yesus Kristus. Semua murid-murid mengalami kemenangan dan mencapai garis finish perlombaan iman mereka melalui penderitaan kecuali Yohanes (mati dengan cara natural, bukan martir).

Saudara/i ytk, anda mau mencapai garis kemenangan dalam hidup ini? Fokuskan pandanganmu pada Yesus Kristus dan firman Allah. Kejarlah nilai-nilai kekal dalam hidup ini. Hiduplah bukan untuk diri sendiri lagi, tetapi untuk Kristus yang sudah mati dan bangkit. Lakukan semua itu dengan setia, maka ketika Kristus datang kedua kali, kita akan memperoleh tubuh kebangkitan yang mulia dan hidup kekal bersama denganNya.

Selamat hidup berkemenangan!

PANGGILAN MELAJANG ???


By : Jarot Wijanarko

TANYA:
Seringkalisaya tidak bisa dekat atau suka atau cinta dengan seseorang lebih dari seorangteman. Maksud saya jika ada tanda-tandabahwa teman saya itu mau lebih sekedar teman, mau memacari saya, maka saya akansegera menarik diri. Apa ini tanda-tandabahwa saya panggilannya seperti Paulus? (Saya belum pernah dikecewakan oleh seseorang dalam hal bercinta)

JAWAB:
Sayaharus tahu latar belakang anda secara lebih details. Hal itu bisa saja terjadi karena memangpanggilan seperti Paulus, selibat, tidak menikah, seperti Pastor atau Suster dalam Katolik.

Beberapaorang tidak mau menikah, karena trauma pernikahan. Orang tua selalu bertengkar, terjadi aniaya,pamannya bercerai, kakek nenek bercerai, pendetanya hal yang sama terjadi. Orang-orang lingkungan dekatnya penuh denganmasalah pernikahan, sehingga mempengaruhi konsepnya tentang pernikahan sebagaihal yang rumit dan menakutkan. Jika iniyang terjadi, ini bukan panggilan seperti Paulus, ini trauma. Lihatlah pasangan yang bahagia, supaya andaterinspirasi sari sisi yang positif.

Beberapaorang selalu menarik diri jika ada yang melangkah lebih jauh, karena adaproblem dengan gambar dirinya. Diamengenal dirinya memiliki kelemahan dan selalu dibanyang-bayangi ketakutan,apakah dia bisa membahagiakan pasangannya dengan kelemahannnya itu. Kelemahan ini bisa berupa cacat biologis,kekurangan ekonomi ataupun kelemahan berupa karakter dan kebiasaan yang tidakbaik. Dia dibayang-bayangi ketakutanapakah nanti dia tidak akan dicampakkan? Apakah benar-benar ada yang mau dengan dia jika mereka mengenal sayayang sebenarnya? Ini adalah tanda-tandaseseorang yang gambar diri atau citra dirinya perlu dipulihkan.

Jikaitu yang terjadi, baca buku atau VCD Seminar kami tentang Citra Diri. Secara singkat saya mau jelaskan, bahwa tidakada yang sempurna, semua orang bergerak ke arah kesempurnaan, tetapi semuaorang memiliki kekurangan, justru itulah yang membuat kita memerlukan oranglain. Lihatlah kenyataan yang lain,bahwa banyak orang lain yang jaaauuuuh lebih jelek dari anda dan merekamenikah, menemukan pasangan yang bisa menerima mereka.

Jikakita bisa menerima diri kita sendiri, kita juga akan diterima orang lain. Jikakita tidak bisa menerima diri kita sendiri, maka bagaimana mungkin kitaditerima oleh orang lain. Beberapa orang lainnya takut menikah karena pernahmengalami pelecehan sexual, pernah diperkosa atau melihat perkosaan.

Jikaanda lewat dari hal-hal diatas, tidak ada masalah trauma masa lalu, tidak adamasalah dengan gambar diri, tetapi seperti Paulus, karena cintanya akan TUHANYESUS, karena beban pelayanan, karena mau melayani TUHAN 100% tanpa adagangguan dari hal-hal pernikahan maka ada kemungkinan itu panggilan anda. Satu hal lagi yang harus meneguhkan, andamemang dipanggil melayani dan menjadi berkat dalam pelayanan.

Action of Love or Action without Love


Tahukah Anda? Binatang yang terbesar adalah ikan paus biru. Panjang tubuhnya mencapai 30 meter. Tembok yang terpanjang adalah tembok besar cina. Panjangnya sampai 1500 mil atau sekitar 2414 km. Pahatan terbesar di dunia adalah Gunung Rushmore. Disana dipahat 4 wajah presiden Amerika setinggi 18 meter lebih. Tetapi, tahukah Anda, kasih yang terbesar di seluruh dunia ini? Kasih yang terbesar adalah kasih Tuhan Yesus kepada kita. Firman Tuhan berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Tuhan Yesus telah memberikan nyawaNya untuk menjadi tebusan kita yang berdosa. Dia rela dipukuli, dicambuk, disiksa bahkan disalibkan demi mengantikan hukuman dosa kita. Tuhan sangat mengasihi kita, tapi apakah kita juga mengasihi Dia?

Dalam Yoh 21:15-17 tercatat bagaimana Simon yang telah menyangkal Yesus tiga kali (pernah gagal membuktikan cinta kasihnya) sekali lagi diberi kesempatan oleh Yesus untuk membuktian kesungguhan cinta kasihnya. Simon ditanya oleh Yesus sebanyak  ia menyangkal Yesus, yaitu: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15, 16, 17).

Apakah Simon mengasihi Tuhan? Apakah Anda mengasihi Tuhan? Barangkali jawaban kita bisa sama seperti jawaban Simon, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”. Tetapi, hal yang dituntut oleh Yesus tidaklah hanya berhenti pada sebuah komitmen perkataan saja, tetapi juga berlanjut pada sebuah komitmen perbuatan (action of love), yaitu “gembalakanlah domba-dombaKu” (Yoh 21:15-17).

Refleksi pertama: “apakah saya sudah mengambil komitmen nyata (action of love) sebagai bukti ‘saya sungguh mengasihi Yesus’?”. Jika belum, jangan tunda untuk melayani Tuhan. Mari segera melayani Tuhan selama hari masih siang. Ladang sudah menguning dan siap untuk dituai.

Refleksi kedua: bagi Anda yang sudah melayani Tuhan, mungkin sudah bertahun-tahun melayani Dia, justru mari kita berhenti sejenak dan merenung, “apakah pelayanan yang saya lakukan selama ini, masih murni didorong semata-mata oleh cinta kasih saya kepada Yesus?” Sebab, bukan tidak mungkin kita “setia” melayani Tuhan, tetapi sebenarnya hati kita jauh daripada Tuhan (action without love). Ingatlah sebuah kebenaran rohani ini: “anda mungkin bisa melayani Tuhan tanpa mengasihiNya, tetapi anda tidak mungkin bisa mengasihi Tuhan tanpa melayaniNya.”

SUKACITA DALAM PELAYANAN


Ada hal yang perlu kita tanyakan, mungkinkah Di dalam pelayanan kita, adalah pelayanan dengan duka ? Jawabannya mungkin ya, bisa saja dalam pelayanan seseorang tidak ada sukacita tetapi yang ada, adalah dukacita. Mengapa tidak ? bukankah pelayanan adalah suatu sikap hidup pengabdian dari seseorang kepada Tuhan yang diwujudkan di dalam pelayanan kepada sesama, dan tentunya di dalam pelayanan ini bisa ada, berbagai kendala yang menyebabkan suatu situasi dan kondisi yang tidak menyenangkan, bahkan menjadi menjadi suatu tekanan yang berat. Pelayanan kita telah kehilangan sukacita,

Ada hal yang perlu kita ketahui berkaitan dengan pelayanan:

Pertama bahwa pelayanan adalah suatu pengorbanan dari seorang percaya kepada Tuhan sebagai tanda kasihnya, pelayanan yang tidak rela berkorban adalah bukan pelayanan, namun merupakan suatu pekerjaan yang hanya menuntut timbal balik.Pelayanan kepada Tuhan memang berarti kita mau taat dan mengikuti pimpinan dan kehendak-Nya yang sangat mungkin tidak sesuai dengan kehendak/keinginan diri sendiri yang bisa saja justru bertolak kebelakang, namun kita harus taat, bukankah ini suatu dilemma bagi orang yang mau melayani?

Kedua dalam pelayanan perlu ada sukacita, karena pelayanan yang tidak ada sukacita adalah pelayanan yang tidak berkenan kepada Tuhan, dengan kata lain pelayanan tampa sukacita, adalah pelayanan yang tidak mungkin dijalankan dengan pengucapan syukur, sebaliknya mungkin penuh dengan keluhan dan penggerutuan kepada Tuhan. Pelbagai protes bisa saja terlontar, secara sadar ataupun tidak sadar, sengaja ataupun tidak sengaja. Tentunya hal ini tidak boleh terjadi.

Ketiga dalam pelayanan, perlu ada sukacita dalam Tuhan , karena itulah perintah Tuhan  supaya umat-Nya boleh melayani dengan sukacita. Yang juga terus menerus disampaikan oleh Rasul Paulus berulang-ulang kepada segenap orang yang percaya. Sukacita dalam pelayanan ini adalah mutlak harus ada di dalam pelayanan, karena sukacita seperti oli pada mobil yang memberikan pelumasan pada mesin untuk tetap berjalan dengan baik.

Marilah kita melihat apa yang dikatakan Firman Tuhan:

“ Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Bahkan bersukacitalah Senantiasa ( Fil 4:4, 1 Tes 5:16 )

Dan ingatlah bahwa bahwa dalam pelayanan perlu kita ada sukacita dalam pengharapan, seperti yang dikatakan oleh Rasul Petrus, “ … bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.( I Pet 4:13 ), Biarlah kita melayani sesuai paradox yang Rasul Paulus katakan “sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita;…(II Kor 6:10)

Apakah pelayanan anda saat ini dengan duka dan paksa, marilah kita koreksi, dimana pelayanan ini menjadi pelayanan dengan Sukacita!

Buah dari Kesabaran


KESABARAN tidak menjamin melepaskan kita dari masalah. Betul. Tapi setidaknya menjaga kita dari masalah baru. Dan pada saatnya kesabaran akan berbuahkan hal-hal yang baik dan indah. Ini sebuah cerita ilustrasi dari sebuah milis:

”Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Tapi setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, membawa anaknya ke dapur. Ia mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Pada panci kedua, ia memasukkan telur. Dan pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan ketiganya mendidih.

Selama itu si anak terdiam seribu basa. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, “Apa yang kau lihat, Nak?”

“Wortel, telur, dan kopi,” jawab sang anak.  Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel.  Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. “Apa maksud semua ini, ayah?” tanya sang anak.

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama,  yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah. Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuh berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang
merebusnya itu. “Maka, yang manakah dirimu?” tanya sang ayah pada anaknya. “Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu? Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?”
ITULAH buah kesabaran. Tapi memang tidak gampang untuk bersabar. Sebab yang dihadapi adalah diri sendiri. Seperti kata penulis Amsal, “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32). Kalau Tuhan menginkan kita menjadi orng-orang yagn sabar, Dia tentunya akan menolong kita memiliki karakter tersebut. Asal kita berusaha.