Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan


Kalimat “Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan” dalam bahasa latin terkenal dengan sebutan: Soli Deo Gloria. Soli = hanya satu-satunya. Deo = Tuhan. Gloria = Kemuliaan. Dimana inti pengajarannya adalah agar umat Kristen sadar bahwa segala kemuliaan hanya empunya Tuhan semata. Pengajaran ini tidak hanya tercantum di akhir dari Doa Bapa Kami sebagai sebuah doxology (Mat 6:13b), tetapi juga digunakan oleh Paulus sebagai puncak penutup dari  seluruh pengajaran teologianya (Roma 1-11). Dimana dalam hal ini, Paulus hendak menekankan kepada umat Kristen: “ theology must end with doxology”. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36).

Dalam level praktika, untuk menjalani prinsip hidup Soli Deo Gloria tidaklah mudah. Contohnya saja, walaupun kita tahu bahwa jika kita melayani di gereja adalah hanya bagi Tuhan dan untuk kemuliaanNya semata, tapi sering kali jika tidak ada orang yang perhatikan apa yang tengah kita kerjakan capek-capek, kita seringkali menjadi kesal. Tidak jarang, kita berupaya (sadar atau tidak sadar) dengan seribu satu cara mengkomunikasikan upaya kerja keras pelayanan kita pada orang lain dengan tujuan agar banyak orang boleh menaruh simpati pada kita dan akhirnya memuji kerja keras kita lebih daripada Tuhan yang dimuliakan. Ini hanyalah salah satu contoh saja.

Pergumulan diatas membawa saya pada perenungan secara historika. Hal ini mengingatkan saya akan sejarah penginjilan di Tiongkok dan teladan hidup banyak missionaris di Tiongkok. Banyak di antara mereka yang tidak terlalu memusingkan apakah nama mereka dikenal atau tidak dikenal oleh dunia. Tapi, mereka rela mati demi panggilan Injil Tuhan. Salah satu motto mereka yang terkenal adalah: “To go and preach the gospel, to die and to be forgotten”. Inilah prinsip hidup Soli Deo Gloria yang begitu nyata dipraktekkan dalam kehidupan para missionaris di Tiongkok tersebut. Mereka lebih menekankan asalkan bendera “Kerajaan Tuhan” berkibar, maka hati mereka sudah berlimpah dengan ucapan syukur, walaupun nama mereka mungkin tidak diingat dan dikenal oleh dunia.

Timbul dalam benak saya. Kalau begitu, adakah tempat memberi perhatian/penghargaan dalam kehidupan pelayanan Kristeni? Nampaknya ada. Jika kita lihat kehidupan pastoral Rasul Paulus kepada rekan-rekan sepelayanannya. Perihal memberikan ungkapan ‘terima kasih’ dan penghargaan akan kerja keras rekan2 sepelayannya dan jemaat begitu nyata tertuang dalam surat-surat pengembalaannya, terutama dalam salam penutup surat, walaupun tidak di semua suratnya (contoh: Roma 16:1-24). Tetapi walaupun demikian,  tetap pada akhir Paulus menutup surat itu dengan sebuah doxology, yaitu: segala kemulian hanya bagi Allah semata (Roma 16:25-27).

Jadi, teladan Paulus ini sungguh perlu kita ikuti, walaupun tentunya dalam koridor yang tepat, yaitu memberikan semangat juang (spiritual encouragement) bagi rekan-rekan sepelayan agar berkarya lebih lagi, bukan bagi kemulian diri manusia, tapi bagi kemuliaan Tuhan semata (Soli Deo Gloria).

By. GPBB _ bukit batok – Reshared  by http://www.marudutsihombing.wordpress.com

About these ads

2 responses to this post.

  1. Posted by yayan on Juni 7, 2011 at 12:06 am

    seberapa hebat hingga manusia tetap dalam ke egoannya..bahwa dia tak pernah menagis..’

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: